MEDIAWARTA,MAKASSAR – Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, Melinda Aksa, mendorong penguatan pemilahan dan pengelolaan sampah dari sumbernya di seluruh pasar di Kota Makassar.
Hal tersebut disampaikan saat menghadiri Rapat Evaluasi Program Pemilahan Sampah di Unit Pasar bersama jajaran Perumda Pasar Karya dan Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar beserta 18 kepala-kepala pasar, di Kantor Pusat Perumda Pasar Karya, Senin (10/8/2026).
Melinda menilai pasar menjadi salah satu titik penting dalam pembenahan pengelolaan sampah karena aktivitasnya terpusat dan menghasilkan volume sampah yang cukup besar setiap hari. Karena itu, edukasi dan sosialisasi kepada pedagang, tenan, maupun warga sekitar pasar harus terus diperkuat.
“Pasar ini sebenarnya lebih mudah kita identifikasi. Kita bisa melihat siapa yang sudah memilah dan siapa yang belum. Jadi edukasi harus berjalan, tetapi setelah edukasi tentu harus ada ketegasan,” ujar Melinda.
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah memastikan sampah dipilah sejak dari sumber. Terlebih, lebih dari separuh sampah yang dihasilkan pasar merupakan sampah organik yang seharusnya dapat dimanfaatkan kembali dan tidak berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA).
Melinda menyoroti kondisi di lapangan sejak kebijakan pengelolaan sampah diberlakukan per 1 Agustus, di mana TPA diarahkan hanya menerima sampah residu. Masih bercampurnya sampah dari pasar membuat kecamatan ikut menanggung beban pengangkutan dan penanganannya.
“Kalau sampah organik masih bercampur, akhirnya semua menjadi residu. Ini yang harus kita ubah dari hulunya,” tegasnya.
Ia juga menilai pengelolaan sampah pasar membutuhkan solusi dengan kapasitas yang sesuai. Menurut Melinda, teknologi atau metode pengolahan skala kecil seperti TEBA Modern tidak dapat menjadi solusi utama untuk pasar karena kapasitasnya terbatas, sementara volume sampah yang dihasilkan pasar jauh lebih besar.
Karena itu, Pemerintah Kota Makassar tengah mendorong penyiapan lokasi khusus untuk menampung dan mengolah sampah organik dari pasar maupun sektor HOREKA (hotel, restoran, dan kafe). Sampah organik tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan, termasuk sebagai bahan pakan ternak sesuai kelayakan dan pengelolaan yang tepat.
Di sisi lain, Melinda mendorong setiap pasar mulai membangun sistem pengelolaan sampah secara mandiri dengan pendampingan Dewan Lingkungan Hidup. Menurutnya, setiap pasar memiliki karakter dan volume sampah yang berbeda sehingga membutuhkan pola pengelolaan yang sesuai dengan kondisi masing-masing.
Salah satu contoh datang dari Pasar Kalimbu. Kepala Pasar Kalimbu, Sahir, menyampaikan produksi sampah di pasar tersebut mencapai sekitar tiga ton per hari. Sekitar dua ton sampah organik berupa sisa sayuran telah dimanfaatkan oleh peternak, sementara sampah organik yang tidak terserap masih menjadi tantangan.
Upaya pemilahan tersebut bahkan telah menurunkan volume residu di Pasar Kalimbu dari sekitar 120 kilogram menjadi sekitar 60 kilogram. Namun, masih ditemukan pedagang maupun warga yang belum tertib memilah dan membuang sampah pada tempatnya.
Sementara itu, Direktur Utama Perumda Pasar Karya, Ali Gauli Arief, menegaskan komitmen pengelola pasar untuk mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA melalui pemilahan dari sumber. Pengelolaan sampah organik juga mulai dilakukan di sejumlah pasar, salah satunya melalui komposter aerob di Pasar Pa’baeng-baeng.
Melinda menegaskan, pembenahan pengelolaan sampah di pasar membutuhkan kolaborasi antara pengelola pasar, pedagang, masyarakat, pemerintah, dan Dewan Lingkungan Hidup. Edukasi menjadi langkah awal, tetapi kedisiplinan dan penegakan aturan harus berjalan beriringan.
“Target kita jelas. Sebelum evaluasi pada September nanti, kita harus bisa menunjukkan perbaikan pengelolaan sampah dari hulu secara signifikan, bahkan di atas 90 persen. Ini bukan hanya soal kebersihan pasar, tetapi bagaimana kita bersama-sama memastikan sampah yang masuk ke TPA benar-benar hanya residu,” kata Melinda.
Ia berharap hasil evaluasi ini menjadi momentum bagi seluruh pasar di Makassar untuk bergerak lebih cepat dan terukur. Dengan pemilahan yang konsisten, pengelolaan organik yang tepat, serta keterlibatan aktif seluruh pihak, beban sampah ke TPA dapat ditekan sekaligus menciptakan pasar yang lebih bersih, sehat, dan nyaman bagi masyarakat. (*)

Comment