MEDIAWARTA,MAKASSAR,-Alam bukan sekadar ruang geografis tempat manusia menjalani kehidupan. Lebih dari itu, alam merupakan bagian tak terpisahkan dari keberlangsungan peradaban, sumber kehidupan, sekaligus ruang spiritual yang menghubungkan manusia dengan Sang Pencipta. Tanah yang dipijak, air yang menghidupi, udara yang dihirup, serta pepohonan yang menaungi merupakan anugerah yang menuntut tanggung jawab untuk dijaga dan dilestarikan.
Namun, di tengah perkembangan zaman dan meningkatnya aktivitas manusia, keharmonisan hubungan dengan alam menghadapi berbagai tantangan. Pencemaran lingkungan, berkurangnya ruang hijau, kerusakan ekosistem, serta perilaku yang mengabaikan kelestarian alam menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak boleh hanya berorientasi pada kepentingan manusia saat ini, tetapi juga harus mempertimbangkan keberlanjutan kehidupan generasi mendatang.
Dalam konteks inilah, penguatan gerakan Barisan Sipakainge menjadi relevan dan strategis. Berangkat dari kearifan lokal masyarakat Sulawesi Selatan, sipakainge mengandung makna saling mengingatkan dan menasihati dalam kebaikan. Nilai ini bukan sekadar ungkapan budaya, melainkan fondasi etis untuk membangun kesadaran kolektif, memperkuat solidaritas sosial, dan menumbuhkan tanggung jawab bersama dalam menjaga lingkungan.
Ketika nilai sipakainge diaktualisasikan melalui gerakan Barisan Sipakainge, kearifan lokal tidak lagi berhenti sebagai warisan tutur, tetapi menjelma menjadi tindakan nyata. Masyarakat diajak untuk saling mengingatkan, memberikan teladan, dan bergotong royong mewujudkan lingkungan yang Bersih, Asri, Rindang, Indah, Sehat, Aman, dan Nyaman. Tujuh unsur tersebut menjadi tolok ukur sekaligus arah gerakan untuk membangun ruang hidup yang lebih berkualitas.
Sipakainge: Kearifan Lokal sebagai Kekuatan Ekoteologi
Ekoteologi mengajarkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan memiliki dimensi spiritual dan moral. Merawat alam bukan hanya persoalan kebersihan atau kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga wujud kesadaran manusia atas tanggung jawabnya terhadap kehidupan dan ciptaan Tuhan.
Dalam masyarakat Sulawesi Selatan yang kaya akan tradisi dan nilai kultural, sipakainge memiliki potensi besar untuk menjadi jembatan antara kesadaran ekologis dan pengamalan nilai keagamaan. Prinsip saling mengingatkan mengajarkan bahwa pelestarian lingkungan tidak dapat dibebankan kepada pemerintah atau kelompok tertentu saja. Tanggung jawab tersebut merupakan panggilan bersama yang membutuhkan keterlibatan keluarga, komunitas, lembaga pendidikan, rumah ibadah, pemerintah, dan seluruh elemen masyarakat.
Seseorang mungkin mampu menjaga kebersihan di lingkungan rumahnya, tetapi persoalan sampah tidak akan terselesaikan apabila lingkungan sekitarnya masih abai. Satu komunitas mungkin berkomitmen menanam pohon, tetapi upaya tersebut akan kehilangan makna apabila perilaku perusakan lingkungan terus dibiarkan. Karena itu, dibutuhkan gerakan bersama yang tidak hanya mendorong perubahan perilaku individu, tetapi juga membangun budaya saling peduli.
Di sinilah kekuatan Barisan Sipakainge. Gerakan ini dapat menjadi ruang kolaborasi untuk mengembangkan kepedulian ekologis melalui pendekatan yang santun, inklusif, dan berkelanjutan. Mengingatkan bukan berarti menghakimi, melainkan mengajak untuk memperbaiki diri. Menasihati bukan berarti menyalahkan, melainkan menumbuhkan kesadaran bahwa setiap tindakan manusia memiliki konsekuensi bagi lingkungan dan sesama.
Dengan demikian, sipakainge dapat menjadi kekuatan sosial yang menghubungkan nilai budaya, ajaran agama, dan aksi nyata pelestarian lingkungan.
Penguatan Barisan Sipakainge sebagai bentuk penguatan ekoteologi yang digagas oleh H. Ali Yafid ( Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan).
Tri Hita Karana: Landasan Keharmonisan dalam Perspektif Hindu
Bagi umat Hindu, semangat Barisan Sipakainge memiliki keselarasan mendalam dengan ajaran Tri Hita Karana, yaitu tiga penyebab terciptanya kebahagiaan dan keharmonisan hidup. Ajaran ini menegaskan pentingnya membangun hubungan yang seimbang antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, serta manusia dengan alam lingkungan.
Pertama, Parahyangan, yakni hubungan harmonis antara manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa. Hubungan spiritual tersebut seharusnya tercermin dalam sikap hormat terhadap kehidupan dan seluruh ciptaan-Nya. Kesadaran beragama tidak cukup diwujudkan melalui ritual keagamaan, tetapi perlu hadir pula dalam perilaku sehari-hari yang mencerminkan tanggung jawab, kesederhanaan, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Kedua, Pawongan, yaitu hubungan harmonis antarsesama manusia. Dalam konteks Barisan Sipakainge, nilai ini diwujudkan melalui semangat gotong royong, solidaritas, dan kesediaan untuk saling mengingatkan dalam menjaga lingkungan. Masyarakat yang harmonis bukan masyarakat yang membiarkan kesalahan demi menghindari perbedaan, melainkan masyarakat yang mampu menyampaikan kebenaran dengan bijaksana dan membangun perubahan melalui kerja sama.
Ketiga, Palemahan, yakni hubungan harmonis antara manusia dengan alam lingkungan. Inilah dimensi yang secara langsung menegaskan bahwa kelestarian alam merupakan bagian penting dari kehidupan yang seimbang. Manusia tidak sepatutnya memandang alam semata-mata sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai bagian dari tatanan kehidupan yang harus dihormati, dipelihara, dan diwariskan dalam keadaan baik kepada generasi berikutnya.
Ketiga dimensi tersebut saling berkaitan. Hubungan manusia dengan Tuhan perlu tercermin dalam perilaku terhadap sesama dan alam. Hubungan sosial yang baik harus mendukung terciptanya lingkungan yang lestari. Sebaliknya, lingkungan yang sehat turut menopang kualitas hidup, ketenteraman, dan keharmonisan masyarakat.
Dengan demikian, Barisan Sipakainge dapat menjadi wahana aktualisasi nilai pawongan dan palemahan, sekaligus memperkuat kesadaran spiritual dalam pelaksanaan parahyangan.
Memperkuat Kolaborasi Lintas Agama dan Generasi
Persoalan lingkungan tidak mengenal batas agama, suku, maupun kelompok sosial. Udara yang kita hirup, air yang kita gunakan, dan tanah tempat kita hidup merupakan kepentingan bersama. Oleh sebab itu, Barisan Sipakainge memiliki peluang besar untuk menjadi gerakan kolaboratif yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat dalam satu tujuan: menjaga keberlanjutan lingkungan.
Bagi umat Hindu di Sulawesi Selatan, keterlibatan dalam gerakan ini merupakan kesempatan untuk mengaktualisasikan ajaran agama dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai “Tri Hita Karana” dapat menjadi inspirasi untuk membangun relasi yang harmonis dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam, tanpa menutup ruang dialog dengan kearifan lokal maupun keyakinan lainnya.
Kolaborasi tersebut dapat diwujudkan melalui kerja sama pemerintah, tokoh agama, tokoh adat, lembaga pendidikan, organisasi kepemudaan, komunitas lingkungan, serta masyarakat di tingkat lokal. Peran tokoh agama sangat penting dalam menanamkan pemahaman bahwa kepedulian ekologis merupakan bagian dari tanggung jawab moral. Sementara itu, generasi muda perlu diberi ruang untuk berinovasi, mengembangkan edukasi digital, dan menciptakan gerakan lingkungan yang kreatif serta relevan dengan tantangan zaman.
Dukungan kebijakan dan kesinambungan program juga menjadi faktor penting. Gerakan lingkungan akan lebih berdampak apabila disertai pembagian peran yang jelas, kegiatan rutin, indikator keberhasilan, serta evaluasi berkala. Dengan cara ini, Barisan Sipakainge dapat berkembang dari gerakan penyadaran menjadi budaya bersama yang melekat dalam kehidupan masyarakat.
Menjaga Alam adalah Merawat Masa Depan
Pada akhirnya, keharmonisan dengan alam tidak dapat dibangun hanya melalui imbauan. Ia membutuhkan keteladanan, konsistensi, dan keberanian untuk mengubah kebiasaan yang merugikan lingkungan. Kita perlu menyadari bahwa kerusakan ekologis yang terjadi hari ini dapat menjadi beban bagi generasi yang akan datang, sedangkan tindakan sederhana yang dilakukan secara kolektif dapat memberikan manfaat yang jauh melampaui kepentingan pribadi.
Barisan Sipakainge mengajarkan bahwa perubahan dapat dimulai dari kesediaan untuk saling mengingatkan. Ketika seseorang membuang sampah sembarangan, ada yang mengingatkan dengan santun. Ketika ruang hijau mulai terabaikan, ada yang menggerakkan warga untuk menanam dan merawat pohon. Ketika kebiasaan yang merusak lingkungan dianggap lumrah, ada yang berani mengajak masyarakat kembali pada perilaku yang bertanggung jawab.
Bagi umat Hindu, semangat ini selaras dengan cita-cita “moksartham jagadhita ya ca iti dharmah”, yang menegaskan orientasi kehidupan beragama pada kesejahteraan dunia dan pencapaian kebahagiaan spiritual. Kesejahteraan dunia tidak dapat dilepaskan dari lingkungan yang lestari, kehidupan sosial yang harmonis, dan perilaku manusia yang berlandaskan dharma.
Karena itu, memperkuat Barisan Sipakainge bukan semata-mata menjalankan sebuah program, melainkan menumbuhkan kesadaran bahwa manusia dan alam merupakan bagian dari kehidupan yang saling membutuhkan. Kearifan lokal sipakainge dan ajaran Tri Hita Karana bertemu dalam pesan yang sama: keharmonisan harus dirawat melalui kesadaran, tindakan, dan tanggung jawab bersama.
Mari menjadikan Barisan Sipakainge sebagai gerakan nyata untuk menghadirkan lingkungan yang bersih, asri, rindang, indah, sehat, aman, dan nyaman. Sebab, ketika manusia belajar menghormati alam, sesungguhnya ia sedang menjaga kehidupan, merawat peradaban, dan mewariskan harapan bagi generasi mendatang.
Oleh: Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Hindu Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, I Gusti Ayu Uik Astuti.



Comment