MEDIAWARTA, MAKASSAR – Mengubah sampah menjadi barang berguna, mengenal budidaya maggot, panen telur ayam, hingga memanen sayuran dari kebun sendiri menjadi pengalaman belajar bagi anak-anak Sekolah Anak Percaya Diri (SAPD) di Makassar.

Melalui program Green Space Mangkasara’ Ecokreasi Bio Urban, Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Makassar mengajak anak-anak mengenal lingkungan dengan cara yang lebih dekat dan menyenangkan.
Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau Corporate Social Responsibility (CSR) ini berlokasi di Kelurahan Tamalabba, Kecamatan Ujung Tanah, Kota Makassar.
Green Space Mangkasara’ Ecokreasi Bio Urban mengintegrasikan pertanian perkotaan (urban farming), pengolahan sampah, dan edukasi lingkungan yang dirancang untuk membangun kepedulian anak sejak dini.
Puluhan siswa SAPD dari jenjang sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP) mengikuti kegiatan tersebut melalui kunjungan langsung ke kawasan Kelompok Wanita Tani Bahari Sigalu. Mereka tidak hanya memperoleh penjelasan, tetapi juga berkesempatan mempraktikkan pengolahan sampah plastik menjadi kerajinan gantungan kunci, mengenal proses budidaya, serta memanen buah dan sayuran organik.

Shift Supervisor II HSSE Sulawesi, Panji Triyanu, mengatakan edukasi lingkungan bagi anak-anak penting untuk membangun kebiasaan memilah sampah sejak usia dini. Menurut dia, pemahaman tersebut perlu diberikan melalui pengalaman langsung agar anak-anak dapat membedakan sampah yang masih bisa didaur ulang dan yang memerlukan penanganan berbeda.
“Tujuannya dari generasi muda dan usia dini dulu, supaya adik-adik ini bisa memahami dan melihat langsung jenis-jenis sampah, mana yang bisa didaur ulang dan mana yang tidak. Dengan begitu, tumbuh kesadaran dari kecil bahwa sampah itu bernilai dan tidak boleh dibuang sembarangan,” ujar Panji, Jumat (16/10/2026).
Melalui pendekatan tersebut, anak-anak diajak memahami bahwa sampah bukan sekadar sesuatu yang harus dibuang. Dengan pemilahan dan pengolahan yang tepat, sejumlah jenis sampah masih dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk yang memiliki nilai guna, bahkan berpotensi memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Salah satu kegiatan yang diperkenalkan adalah pengolahan sampah organik melalui budidaya maggot. Larva tersebut dibudidayakan dengan memanfaatkan sisa makanan dan bahan organik, kemudian digunakan sebagai pakan ikan lele. Proses ini memperlihatkan bagaimana sampah yang sebelumnya tidak terpakai dapat masuk kembali ke dalam siklus pemanfaatan sumber daya.

Di kawasan yang sama, terdapat pula bank sampah yang mendukung kebiasaan mengumpulkan dan memilah sampah. Anak-anak dapat mengenal proses pengelolaan tersebut secara langsung, mulai dari memisahkan sampah berdasarkan jenisnya hingga memahami pentingnya penanganan sampah sebelum dibuang atau diolah lebih lanjut.
Inovasi lainnya adalah pemanfaatan limbah popok sekali pakai sebagai salah satu bahan campuran pembuatan paving block oleh mitra binaan Pertamina atau local hero. Program ini memperkenalkan alternatif pemanfaatan limbah yang selama ini kerap berakhir di tempat pembuangan.
Panji menjelaskan, produksi paving block tersebut telah berjalan, meskipun masih dalam skala terbatas dan menyesuaikan permintaan. Dalam produksi terakhir beberapa bulan sebelum wawancara, jumlah yang dihasilkan sekitar 20 unit. Kapasitas produksi diperkirakan berkisar dua hingga tiga unit per hari, bergantung pada pesanan, pendanaan, dan kebutuhan produksi.
Keberadaan berbagai aktivitas tersebut membuat Green Space Mangkasara’ Ecokreasi Bio Urban tidak hanya menjadi tempat belajar mengenai lingkungan, tetapi juga ruang untuk memperkenalkan potensi ekonomi dari pengelolaan sampah. Anak-anak dapat melihat bahwa upaya mengurangi timbunan sampah bisa berjalan beriringan dengan kegiatan produktif masyarakat.
Program ini juga memiliki dimensi sosial yang berkaitan dengan pendampingan anak. SAPD merupakan wadah pendidikan inklusif dan pemulihan psikologis berbasis komunitas bagi anak-anak rentan, termasuk korban kekerasan atau trauma. Sekolah tersebut dipimpin Dra. Nuraeni dan berada di bawah naungan shelter Puanmakari, dengan dukungan tenaga profesional seperti psikolog, konselor, serta guru pendamping.
Dalam konteks tersebut, pembelajaran di ruang terbuka memberi kesempatan bagi anak-anak untuk berinteraksi dengan lingkungan, mencoba aktivitas baru, dan memperoleh pengalaman di luar kegiatan belajar rutin. Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya memperluas pengalaman edukatif yang mendukung pemberdayaan anak.
Bagi Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Makassar, pengenalan lingkungan sejak dini menjadi salah satu cara mendorong perubahan perilaku yang dapat berlanjut di rumah maupun di sekolah. Melalui kegiatan praktik, anak-anak diharapkan semakin memahami pentingnya memilah sampah, mengurangi kebiasaan membuang sampah sembarangan, serta mengenali peluang pemanfaatan kembali bahan yang masih bisa diolah.
Melalui Green Space Mangkasara’ Ecokreasi Bio Urban, Pertamina menggabungkan edukasi lingkungan, pertanian perkotaan, pengolahan limbah, dan pemberdayaan sosial dalam satu kawasan. Anak-anak tidak hanya belajar menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga melihat secara langsung bagaimana kepedulian terhadap sampah dapat dimulai dari kebiasaan sederhana dan dikembangkan menjadi kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.



Comment