Xanana Gusmão di Unhas: Penghargaan yang Berubah Menjadi Amanah bagi Rakyat

Perdana Menteri Timor Leste, Kay Rala Xanana Gusmão. Foto: Masyudi Firmansyah/Mediawarta

MEDIAWARTA, MAKASSAR – Perdana Menteri Timor Leste, Kay Rala Xanana Gusmão menyebut penghargaan kehormatan yang diberikan Universitas Hasanuddin (Unhas) bukan sekadar bentuk penghormatan atas perjalanan panjangnya. Bagi tokoh yang menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan kemerdekaan Timor-Leste itu, penghargaan tersebut justru menjadi tanggung jawab baru untuk terus bekerja bagi rakyat.

Xanana menyampaikan hal tersebut setelah menerima penghargaan kehormatan dari Unhas. Ia mengaku merasa sangat terhormat, sekaligus menilai penghargaan tersebut memiliki makna yang jauh lebih besar dari apa yang menurutnya layak ia terima.

Menurut Xanana, penghargaan itu mengingatkan dirinya pada tanggung jawab terhadap masyarakat Timor-Leste yang telah berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Ia menegaskan bahwa perjuangan tersebut bukan milik dirinya seorang, melainkan milik seluruh rakyat Timor-Leste.

“Saya merasa bukan hanya sangat terhormat, tetapi juga merasa bahwa penghargaan ini lebih besar daripada yang pantas saya terima. Namun, di sisi lain, ini merupakan tanggung jawab yang besar,” ujar Xanana, Sabtu (5/9/2026).

Ia mengatakan, setelah lebih dari dua dekade Timor-Leste merdeka, berbagai persoalan masih dihadapi masyarakat, termasuk kemiskinan dan tantangan pembangunan. Karena itu, penghargaan yang diterimanya dari Unhas menjadi pengingat agar dirinya tidak berhenti memberikan kontribusi bagi rakyat.

“Penghargaan ini adalah sebuah tanggung jawab. Kita harus terus melakukan yang terbaik bagi masyarakat yang telah berjuang untuk kemerdekaan,” katanya.

Xanana bahkan menyebut penghargaan tersebut lebih dari sekadar penghormatan. Baginya, penghargaan itu merupakan semacam amanah untuk melanjutkan pekerjaan yang belum selesai bagi rakyat Timor-Leste.

Ia juga kembali menegaskan bahwa pahlawan sesungguhnya dalam perjalanan kemerdekaan Timor-Leste adalah rakyatnya.

“Tidak ada lagi pahlawan di Timor-Leste. Yang ada adalah rakyat Timor-Leste,” ujar Xanana.

Dari Pejuang Kemerdekaan hingga Negarawan

Makna penghargaan tersebut tidak dapat dilepaskan dari perjalanan panjang Xanana Gusmão bersama sejarah Timor-Leste.

Kay Rala Xanana Gusmão lahir pada 20 Juni 1946 di Manatuto, Timor-Leste. Perjalanan kepemimpinannya tumbuh seiring dengan dinamika perjuangan bangsa Timor-Leste.

Pada dekade 1970-an, Xanana aktif dalam gerakan politik yang kemudian berkembang menjadi Fretilin. Perjalanan perjuangan itu membawanya pada posisi sebagai pemimpin perlawanan sekaligus Commander-in-Chief Falintil pada 1981.

Dalam posisi tersebut, Xanana tidak hanya memimpin perjuangan bersenjata, tetapi juga mengembangkan gagasan persatuan nasional serta mengonsolidasikan berbagai kekuatan masyarakat Timor-Leste.

Setelah 17 tahun menjalani perjuangan gerilya, Xanana ditangkap pada 1992 dan kemudian menjalani masa tahanan di Indonesia. Namun, penahanan tidak menghentikan aktivitasnya.

Dari dalam tahanan, ia tetap mempersiapkan diri dan mempelajari berbagai hal, termasuk bahasa Indonesia, bahasa Inggris, serta hukum. Ia juga menulis dan melukis. Pada 1998, Xanana kembali dikukuhkan sebagai pemimpin perlawanan Timor-Leste.

Setelah referendum yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa membuka jalan bagi proses kemerdekaan Timor-Leste, Xanana dibebaskan pada 7 September 1999.

Babak berikutnya menjadi titik penting dalam perjalanan hidupnya. Dari seorang pemimpin perjuangan, Xanana bertransformasi menjadi seorang negarawan yang harus mengemban tanggung jawab membangun negara baru.

Pada 14 April 2002, Xanana Gusmão terpilih sebagai Presiden Republik Demokratik Timor-Leste. Ia kemudian dilantik pada 20 Mei 2002 sebagai presiden pertama negara tersebut.

Setelah menyelesaikan masa jabatannya pada 2007, Xanana kembali mengemban tanggung jawab pemerintahan sebagai Perdana Menteri sekaligus Menteri Pertahanan dan Keamanan. Ia kembali terpilih sebagai Perdana Menteri pada 2012.

Dalam berbagai periode kepemimpinannya, Xanana memberikan perhatian pada konsolidasi perdamaian, persatuan nasional, penguatan fondasi demokrasi, serta pembangunan ekonomi dan institusi negara.

Salah satu kontribusi strategisnya adalah memimpin proses konsultasi dan penyusunan Timor-Leste Strategic Development Plan 2011–2030, yang menjadi kerangka penting bagi arah pembangunan jangka panjang Timor-Leste.

Jejak kepemimpinannya juga terlihat dalam diplomasi dan penyelesaian persoalan antarnegara. Pada 2016, Pemerintah Timor-Leste menunjuk Xanana sebagai Chief Negotiator for Council for the Final Delimitation of Maritime Boundaries.

Dalam kapasitas tersebut, ia memimpin delegasi Timor-Leste dalam perundingan dengan Australia melalui mekanisme Compulsory Conciliation berdasarkan United Nations Convention on the Law of the Sea.

Proses tersebut kemudian menghasilkan Maritime Boundary Treaty antara Timor-Leste dan Australia yang diratifikasi pada 30 Agustus 2019. Xanana juga terus terlibat dalam upaya penyelesaian persoalan batas darat dan maritim antara Timor-Leste dan Indonesia.

Sejak 2019, Xanana dipercaya sebagai Special Representative for the Blue Economy. Peran tersebut memperlihatkan semakin luasnya agenda pengabdiannya, dari perjuangan kemerdekaan dan pembangunan negara menuju pembangunan berkelanjutan, pengelolaan sumber daya maritim, serta pengembangan masa depan ekonomi Timor-Leste.

Pada 1 Juli 2023, Xanana kembali dipercaya memimpin pemerintahan sebagai Perdana Menteri The IX Constitutional Government of Timor-Leste. Hingga kini, ia masih memainkan peran strategis dalam pembangunan nasional, diplomasi perbatasan, serta pengembangan agenda ekonomi biru.

Pendidikan dan Masa Depan Pemimpin

Pengalaman panjang tersebut kemudian menjadi konteks penting ketika Xanana berbicara mengenai pemimpin masa depan.

Dalam kesempatan tersebut, Xanana menekankan peran perguruan tinggi dalam melahirkan generasi pemimpin. Menurut dia, universitas tidak hanya berfungsi sebagai tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk belajar berpikir, menguji berbagai fakta, memahami persoalan, dan mencari solusi.

Ia menilai pemimpin tidak dapat dilahirkan hanya melalui penunjukan atau proses yang dibuat secara instan. Kepemimpinan akan tumbuh secara alami dari pengalaman, proses berpikir, serta kemampuan seseorang menghadapi berbagai persoalan.

“Pemimpin-pemimpin baru akan datang dari sana. Ketika melihat kesulitan, mereka mempelajari bagaimana menyelesaikannya dengan visi untuk masa depan,” tuturnya.

Xanana mengisahkan pengalaman ketika dirinya dipercaya menjadi panglima dalam perjuangan Timor-Leste. Menurut dia, posisi tersebut bukan sesuatu yang diperoleh melalui pendidikan formal atau gelar akademik.

Dalam situasi ketika banyak pejuang gugur dan sebagian lainnya menyerah, ia dihadapkan pada sebuah keputusan besar. Dari kondisi itulah tanggung jawab kepemimpinan muncul dan harus dijalankan.

“Ketika saya menjadi panglima, saya tidak melalui kelulusan atau pendidikan formal untuk menjadi pemimpin. Banyak orang telah gugur, banyak yang menyerah. Saya menghadapi keputusan itu dan kemudian berkata, sekarang saya yang mengambil tanggung jawab,” katanya.

Menurut Xanana, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan juga dibentuk melalui mentalitas, keberanian menghadapi persoalan, serta kemampuan mengambil keputusan dalam situasi sulit.

Pesan Xanana tentang AI dan Generasi Muda

Dalam perbincangan mengenai calon pemimpin masa depan, Xanana juga menyinggung perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Ia mengingatkan generasi muda agar tidak menjadikan Google maupun AI sebagai satu-satunya tempat untuk mencari jawaban. Teknologi memang dapat digunakan untuk membantu manusia, tetapi tidak boleh menggantikan kemampuan manusia untuk berpikir dan memahami persoalan secara mandiri.

Xanana menilai ketergantungan berlebihan terhadap teknologi dapat membuat generasi muda kehilangan kemampuan untuk melakukan analisis dan membangun pemikiran sendiri.

“Kita tidak membutuhkan generasi muda yang terlalu bergantung pada Google dan AI. Jika terlalu bergantung, mereka tidak lagi menjadi manusia, tetapi seperti mesin,” ujarnya.

Bagi Xanana, pemimpin masa depan justru harus lahir dari generasi yang mau melihat persoalan secara langsung, memeriksa berbagai fakta, mencoba memahami akar masalah, kemudian mencari jalan keluar dengan pandangan jauh ke depan.

Ia mengatakan, teknologi semestinya ditempatkan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti kemampuan manusia untuk berpikir.

Pandangan tersebut sejalan dengan pesan Rektor Unhas Prof Jamaluddin Jompa yang menilai perkembangan AI tidak seharusnya membuat manusia kehilangan karakter dan kemampuan berpikirnya sendiri.

“AI ada, tetapi bukan segalanya. Kita bisa mempergunakannya, tetapi kita harus tetap menjadi diri sendiri, kemudian ditambah dengan AI,” katanya.

Memperkuat Hubungan Indonesia dan Timor-Leste

Selain berbicara mengenai kepemimpinan dan pendidikan, kehadiran Xanana Gusmão di Unhas juga memiliki arti penting dalam memperkuat hubungan Indonesia dan Timor-Leste, khususnya melalui pendidikan dan hubungan antarmasyarakat kedua negara.

Prof Jamaluddin Jompa menilai perjalanan Xanana sebagai pemimpin sekaligus tokoh sejarah dapat menjadi pembelajaran bagi generasi muda. Pengalaman tersebut penting untuk memahami bagaimana sebuah bangsa melewati masa perjuangan hingga memasuki fase pembangunan.

“Hubungan Indonesia dan Timor-Leste yang telah terjalin baik dapat terus dikembangkan melalui kerja sama pendidikan, pertukaran pengetahuan, serta hubungan antarmasyarakat,” ungkapnya.

Bagi Unhas, kehadiran Xanana bukan hanya menjadi bagian dari sebuah prosesi akademik. Ia juga dipandang sebagai saksi hidup perjalanan sejarah yang dapat memberikan perspektif bagi generasi muda mengenai perjuangan, kepemimpinan, pembangunan, dan masa depan hubungan dua negara bertetangga.

Pesan yang disampaikan Xanana menjadi pengingat bahwa membangun bangsa setelah meraih kemerdekaan membutuhkan perjuangan yang tidak kalah panjang. Kemerdekaan bukanlah titik akhir, melainkan awal dari tanggung jawab untuk menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat.

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, pesan tersebut juga relevan bagi generasi muda Indonesia dan Timor-Leste. Teknologi dapat membantu manusia bekerja lebih cepat dan menemukan informasi lebih mudah, tetapi kemampuan berpikir kritis, keberanian mengambil keputusan, serta kepedulian terhadap masyarakat tetap menjadi fondasi penting dalam melahirkan pemimpin masa depan.

Dari perjalanan panjang Xanana Gusmão, pesan itu menemukan konteksnya sendiri. Seorang pemimpin tidak hanya dibentuk oleh jabatan, tetapi oleh pengalaman menghadapi persoalan, keberanian mengambil tanggung jawab, kemampuan melihat masa depan, serta kesediaan terus bekerja untuk masyarakat.

Dan bagi Xanana, penghargaan kehormatan yang diterimanya dari Unhas bukanlah garis akhir perjalanan tersebut.

Justru sebaliknya, penghargaan itu ia pandang sebagai amanah untuk terus melanjutkan pengabdian kepada rakyat yang selama ini menjadi alasan utama perjuangannya.

Comment