MEDIAWARTA, MAKASSAR — Hamparan kebun di kawasan Sentra Wirajaya Makassar tak hanya menjadi tempat menanam dan memanen sayuran. Di tangan para Penerima Manfaat (PM) yang tergabung dalam Kelompok Tani Wija, lahan tersebut berkembang menjadi ruang untuk belajar, bekerja, memulihkan kepercayaan diri, sekaligus menghasilkan komoditas yang bernilai ekonomi.
Urban farming yang berada di Jalan AP Pettarani, Kelurahan Sinrijala, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar, itu dikembangkan dengan konsep pertanian terpadu. Di dalamnya terdapat kebun hortikultura, kandang ayam petelur, kolam bioflok untuk budidaya ikan, wadah maggot, hingga teba sebagai media pengelolaan sampah organik.
Konsep tersebut membuat setiap bagian saling terhubung. Sisa makanan dan limbah organik dapat dimanfaatkan sebagai bahan budidaya maggot, sementara sistem bioflok dikembangkan untuk mendukung budidaya ikan. Pada saat yang sama, lahan pertanian menghasilkan berbagai tanaman pangan yang dapat dipanen dan dipasarkan.
Di area peternakan, terdapat sekitar 32 ekor ayam petelur yang ditempatkan dalam kandang yang telah disiapkan untuk menunjang kegiatan kelompok. Bantuan ayam beserta kandangnya berasal dari Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Perikanan dan Pertanian Kota Makassar.
Sementara di lahan hortikultura, sejumlah komoditas dikembangkan, mulai dari jagung pulut super, kangkung cabut, kemangi, tanaman bumbu, ubi kayu hingga ubi jalar. Kangkung menjadi salah satu tanaman yang cukup diandalkan karena masa panennya relatif singkat.
Aktivitas tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Sentra Wirajaya Makassar mendorong penerima manfaat agar memiliki kegiatan produktif yang sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Bukan Sekadar Kebun
Kepala Sentra Wirajaya Makassar, Syamsuddin, mengatakan urban farming Kelompok Tani Wija memiliki nilai lebih karena memberikan kesempatan kepada para penerima manfaat untuk terlibat langsung dalam kegiatan produktif.
Menurutnya, sebagian besar anggota kelompok berasal dari penerima manfaat dengan ragam disabilitas, termasuk tunanetra, tunadaksa, serta disabilitas mental atau orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang telah menjalani proses pemulihan.
“Sesungguhnya mereka hanya perlu diberi kesempatan dan motivasi,” ujar Syamsuddin, Kamis (13/8/2026).
Karena itu, aktivitas di kebun tidak semata-mata diarahkan untuk mengejar hasil produksi. Ada proses membangun rutinitas, tanggung jawab, interaksi sosial, hingga keberanian untuk kembali beraktivitas di tengah masyarakat.
Sentra Wirajaya Makassar bahkan memberi sebutan Ruang Untuk Pulih (RUPIAH) untuk aktivitas urban farming yang melibatkan penerima manfaat tersebut.
RUPIAH menjadi gambaran bahwa proses pemulihan tidak selalu berlangsung di ruang terapi. Bagi para penerima manfaat, merawat tanaman, memberi pakan ayam, mengelola lingkungan, hingga memanen hasil kebun dapat menjadi pengalaman nyata untuk membangun kemandirian.
Pengolahan Lahan Masih Andalkan Cangkul

Di balik potensi tersebut, pengelolaan lahan masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya proses penyiapan tanah yang sebagian besar dilakukan secara manual.
Staf Pendamping sekaligus Pokja Layanan Publik dan Kehumasan Sentra Wirajaya Makassar, Asrul Sani, mengatakan kondisi fisik sebagian penerima manfaat membuat pekerjaan di lahan harus disesuaikan agar tidak menimbulkan kelelahan berlebihan.
“Untuk pembuka lahan, selama ini kita masih memakai cangkul. Ke depan, kami berencana mengajukan permohonan bantuan alat traktor mini ke Kementerian Pertanian untuk memudahkan penyiapan tanah,” katanya.
Menurut Asrul, aktivitas kerja penerima manfaat, khususnya mereka yang sedang menjalani proses pemulihan, memiliki batas tertentu sehingga tidak dapat dipaksakan seperti pekerja pada umumnya.
“Warga binaan di sini, khususnya eks ODGJ, memiliki batas waktu kerja yang tidak boleh terlalu lelah. Begitu selesai minum obat, mereka harus segera beristirahat. Jadi pengolahan lahan tidak bisa dipaksakan secara manual terus-menerus,” ujarnya.
Kondisi tersebut mendorong pengelola mulai memikirkan mekanisasi dan teknologi agar kegiatan urban farming tetap produktif tanpa membebani penerima manfaat.
Menuju Smart Farming
Pengembangan urban farming Kelompok Tani Wija ke depan diarahkan pada pemanfaatan teknologi. Salah satunya melalui sistem penyiraman otomatis yang dilengkapi sensor suhu dan kelembapan.
Pengelola juga menyiapkan rencana penggunaan panel surya atau solar cell untuk meningkatkan efisiensi energi pada sejumlah fasilitas pendukung, termasuk pompa.
Sistem aquaponics turut masuk dalam rencana pengembangan. Teknologi tersebut akan memanfaatkan sirkulasi air dari kolam bioflok untuk mendukung pertumbuhan tanaman sehingga penggunaan sumber daya dapat dilakukan secara lebih efisien.
Sementara itu, area greenhouse yang sebelumnya dimanfaatkan untuk hidroponik skala kecil direncanakan dikembangkan menjadi area tanaman hias, termasuk anggrek.
Pengembangan tersebut diharapkan membuat urban farming tidak berhenti sebagai kegiatan pemberdayaan sosial, tetapi tumbuh menjadi unit produktif yang memiliki nilai ekonomi dan dapat dikelola secara berkelanjutan.
Sayuran Mulai Dilirik Pasar
Hasil dari urban farming Kelompok Tani Wija juga mulai memiliki pasar. Produk sayuran yang dipanen tidak hanya digunakan untuk kebutuhan internal, tetapi telah dijual kepada masyarakat.
Saat Pemerintah Kota Makassar menggelar Pasar Tani, hasil kebun Kelompok Tani Wija turut dibawa untuk dipasarkan.
“Hasilnya tidak cuma untuk konsumsi internal. Kalau ada Pasar Tani Pemkot, kita selalu ikut dan hasilnya dijual di sana. Bahkan banyak ibu-ibu sekitar yang langsung memesan atau pre-order dari sini karena sayurannya dijamin segar, organik, dan bebas pestisida,” jelas Asrul.
Permintaan dari masyarakat sekitar menjadi sinyal bahwa aktivitas pertanian tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai usaha.
Ke depan, pengelola juga menyiapkan pemasaran berbasis digital dengan memanfaatkan media sosial serta kanal penjualan daring. Tim media internal dan mitra kelembagaan diharapkan dapat membantu memperluas jangkauan pemasaran produk.
Dengan pola tersebut, hasil kebun tidak hanya berhenti di lingkungan Sentra Wirajaya Makassar. Produk yang dihasilkan diharapkan dapat menjangkau konsumen yang lebih luas sekaligus memberikan pengalaman kewirausahaan kepada para penerima manfaat.
Urban farming Kelompok Tani Wija pada akhirnya bukan hanya cerita tentang sayuran, ayam, ikan, atau maggot. Di balik aktivitas tersebut terdapat proses pemberdayaan yang mempertemukan aspek sosial, ekonomi, pertanian dan lingkungan dalam satu kawasan.
Bagi para penerima manfaat, setiap tanaman yang tumbuh dan setiap hasil panen yang terjual menjadi bagian dari proses membangun kembali rasa percaya diri.
Mereka tidak hanya diberikan ruang untuk pulih, tetapi juga kesempatan untuk bekerja, berkarya dan menunjukkan kemampuan.
Dari sebuah lahan di tengah Kota Makassar, Kelompok Tani Wija membuktikan bahwa pemberdayaan dapat dimulai dari hal sederhana: memberi kesempatan, menghadirkan pendampingan, lalu membiarkan setiap orang tumbuh sesuai kemampuannya.

Comment