LPS Ingatkan Mahasiswa Unhas Waspadai Paylater dan Investasi Ikut-ikutan

Foto: Masyudi Firmansyah/Mediawarta

MEDIAWARTA, MAKASSAR – Kemudahan transaksi melalui telepon genggam dapat membuat pengeluaran mahasiswa membengkak tanpa disadari. Belanja daring, layanan paylater, hingga tawaran investasi yang ramai di media sosial perlu disikapi dengan pengelolaan keuangan yang cermat agar tidak berujung pada masalah finansial.

Peringatan tersebut mengemuka dalam kegiatan Like It! (Literasi Keuangan Indonesia Terdepan) yang melibatkan lembaga sektor keuangan dan mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas), Selasa (20/10/2026).

Kegiatan ini mendorong generasi muda agar lebih bijak mengendalikan pengeluaran, memahami risiko produk keuangan, dan mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan serta kemampuan finansial.

Badan Supervisi Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Andi Timo Pangerang, menyoroti perubahan pola transaksi masyarakat seiring perkembangan teknologi digital. Jika sebelumnya pengeluaran lebih mudah dipantau melalui uang tunai di dompet, kini berbagai transaksi dapat dilakukan hanya dengan beberapa sentuhan pada layar ponsel.

“Mulai dari memesan makanan, membeli tiket, membayar tagihan, hingga berbelanja secara daring, seluruhnya dapat dilakukan dengan cepat. Namun, transaksi bernilai kecil yang dilakukan berulang kali berpotensi membuat pengeluaran bulanan meningkat apabila tidak dicatat dan dikendalikan,” paparnya.

Andi Timo mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah terpengaruh promosi, diskon, maupun tren belanja di lingkungan pertemanan.

“Sebelum menggunakan produk keuangan, masyarakat perlu memahami manfaat, risiko, dan kewajiban yang menyertainya,” ujarnya.

Executive Director Secretariat and Institutional Relations Directorate LPS, KM Nuruddin, juga menyoroti pesatnya perkembangan akses masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan. Menurutnya, kemudahan akses tersebut perlu diimbangi pemahaman yang memadai mengenai cara kerja, risiko, serta mekanisme pencairan produk keuangan.

“Salah satu hal yang perlu diperhatikan mahasiswa adalah penggunaan pinjaman daring dan paylater. Kemudahan memperoleh pembiayaan tidak serta-merta menunjukkan bahwa seseorang mampu memenuhi cicilan setiap bulan,” ungkap Nuruddin.

Nuruddin mengingatkan agar mahasiswa menghitung kebutuhan rutin dan kemampuan membayar sebelum mengambil kewajiban baru. Tanpa perencanaan yang matang, cicilan dapat mengurangi anggaran untuk kebutuhan penting dan mengganggu kondisi keuangan pada bulan-bulan berikutnya.

“Risiko serupa juga muncul ketika mahasiswa memilih investasi hanya karena mengikuti teman atau tergiur promosi. Tawaran keuntungan tinggi perlu diperiksa secara cermat, termasuk dengan memahami karakteristik produk, risiko kerugian, dan ketentuan pencairan dana,” jelasnya.

Dalam edukasi tersebut, Andi Timo memperkenalkan tiga prinsip pengelolaan keuangan, yakni mengendalikan uang, melindungi simpanan, dan mengembangkan aset sesuai kebutuhan serta profil risiko.

“Mengendalikan uang berarti membedakan kebutuhan dan keinginan, sekaligus merencanakan pengeluaran secara disiplin. Melindungi simpanan dilakukan dengan memahami ketentuan penjaminan LPS, sedangkan mengembangkan aset memerlukan pengetahuan mengenai pilihan investasi dan risiko masing-masing instrumen,” tuturnya.

Pilihan investasi seperti deposito, surat berharga negara, emas, reksa dana, dan saham memiliki karakteristik yang berbeda. Tidak ada satu instrumen yang selalu memberikan hasil terbaik dalam setiap kondisi pasar.

Karena itu, mahasiswa perlu mempertimbangkan tujuan keuangan, jangka waktu penggunaan dana, dan kemampuan menanggung risiko sebelum memilih instrumen investasi. Dana yang dibutuhkan untuk keperluan rutin dalam waktu dekat sebaiknya tidak ditempatkan tanpa mempertimbangkan risiko dan kemudahan pencairannya.

Melalui kegiatan Like It!, mahasiswa Unhas diharapkan tidak hanya mampu memanfaatkan layanan keuangan digital, tetapi juga memahami konsekuensi setiap keputusan finansial. Kecakapan mengelola uang, menjaga simpanan, mengenali potensi penipuan, dan merencanakan investasi menjadi bekal penting untuk membangun kondisi keuangan yang lebih sehat pada masa depan.

Comment