Pertamina Bantu Peternak Perempuan Maros Ubah Sisa Makanan Jadi Telur Asin

Kelompok Peternak Bebek Laleng Kessi, memanen telur bebek di kandang peternakan miliknya di Dusun Tamarunang, Desa Baji Mangngai, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros. Melalui program TJSL berbasis agrokompleks PT Pertamina Patra Niaga AFT Hasanuddin Makassar, kelompok peternak perempuan ini mampu meningkatkan produksi hingga 120 butir telur per hari yang diolah menjadi telur asin bernilai ekonomi tinggi. Foto: Masyudi Firmansyah/Mediawarta

MEDIAWARTA, MAROS – Di tengah hamparan sawah pascapanen di Dusun Tamarunang, Desa Baji Mangngai, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, suara bebek bersahutan di antara deru pesawat yang melintas dari dan menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.

Di tempat itu, Mariama, 42 tahun, bersama delapan kepala keluarga lainnya membangun usaha peternakan bebek yang perlahan mengubah kehidupan mereka. Dengan dukungan PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Hasanuddin Makassar, kelompok yang dikenal sebagai Peternak Bebek Laleng Kessi tersebut tak lagi sekadar menjual telur mentah. Mereka mengolahnya menjadi telur asin rebus dan panggang yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

Perubahan itu bermula dari usaha sederhana yang dijalankan Mariama sebelum akhir 2023. Saat itu, ia hanya memelihara kurang dari 70 ekor bebek dengan produksi sekitar 50 butir telur per hari. Hasil ternak dijual tanpa pengolahan lanjutan, sehingga peluang untuk meningkatkan pendapatan masih terbatas.

Titik balik datang ketika Pertamina menghadirkan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) berbasis agrokompleks. Dukungan yang diberikan mencakup 250 ekor bebek unggul, pembangunan kandang, pasokan pakan, mesin penetas telur, oven pemanggang, hingga kemasan untuk produk siap jual.

Bagi Mariama, bantuan tersebut bukan hanya menambah jumlah ternak, tetapi juga membuka pengetahuan baru tentang cara mengelola peternakan dengan lebih baik.

“Dulu kami hanya kasih makan dan biarkan bertelur. Setelah ada pendampingan, kami belajar bahwa bebek juga harus divaksin dan diberi obat cacing agar kesehatannya terjaga,” ungkap Mariama, Kamis (22/10/2026).

Perubahan cara pemeliharaan itu ikut mendukung peningkatan produktivitas. Kini, peternakan yang menempati lahan sekitar 200 meter persegi tersebut mampu menghasilkan sekitar 120 butir telur setiap hari.

Dari telur mentah menjadi produk bernilai tambah

Bertambahnya produksi telur membuka peluang bagi Kelompok Peternak Bebek Laleng Kessi untuk mengembangkan usaha ke tahap berikutnya. Mereka mulai mengolah telur menjadi dua produk andalan, yakni telur asin rebus dan telur asin panggang.

Diversifikasi tersebut membuat kelompok tidak hanya bergantung pada penjualan telur segar. Produk olahan dapat dipasarkan dalam kemasan yang lebih menarik, sekaligus memberikan nilai tambah dari hasil ternak yang mereka kelola sendiri.

Salah satu produk dijual dalam boks berisi 10 butir dengan harga Rp45.000. Sementara itu, telur asin yang dijual per rak dipasarkan dengan harga Rp85.000.

Dari kegiatan usaha tersebut, kelompok mencatat omzet sekitar Rp5 juta hingga Rp6 juta per bulan. Pendapatan itu menjadi penopang ekonomi keluarga anggota, termasuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya pendidikan anak.

Namun, yang membuat peternakan ini berbeda bukan hanya pengolahan telur. Kelompok Laleng Kessi juga memanfaatkan bahan pangan tersisa dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai bagian dari upaya mengembangkan sistem peternakan yang lebih efisien.

Sisa makanan MBG dimanfaatkan untuk pakan bebek

Setiap hari, sekitar 100–150 kilogram sisa bahan pangan dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Sudiang dan Maros dikumpulkan untuk dimanfaatkan sebagai pakan bebek. Pengumpulan tersebut dilakukan melalui kerja sama Pertamina dengan BUMDes Baji Mangngai.

Bahan pangan yang sebelumnya berpotensi menjadi sampah itu dimanfaatkan kembali untuk mendukung kebutuhan pakan ternak. Langkah ini membuka peluang pengurangan limbah makanan sekaligus membantu peternak mengembangkan pola usaha yang lebih berkelanjutan.

Pakar gizi Universitas Hasanuddin, Prof. Veni Hadju, menilai bahan pangan tersisa berpotensi mengandung zat gizi yang bermanfaat, termasuk protein dari bahan hewani dan senyawa polifenol dari sayuran maupun buah-buahan.

Meski demikian, pemanfaatan sisa makanan sebagai pakan ternak perlu memperhatikan keamanan bahan, komposisi nutrisi, serta pengolahan yang sesuai agar tidak membahayakan kesehatan hewan dan mutu produk yang dihasilkan.

Bagi kelompok Laleng Kessi, pemanfaatan bahan pangan tersebut menjadi bagian dari upaya menghubungkan pengelolaan limbah dengan kegiatan ekonomi masyarakat. Sisa makanan tidak semata-mata dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi juga sebagai sumber daya yang berpotensi digunakan kembali secara tepat.

Mengembangkan telur asin dengan pendekatan baru

Kelompok ini juga mengombinasikan pengembangan pakan dengan penggunaan suplemen probiotik dalam peternakan. Inovasi tersebut diarahkan untuk menghasilkan telur asin yang dipasarkan dengan keunggulan tertentu.

Sukri, 48 tahun, salah satu pengurus Kelompok Peternak Bebek Laleng Kessi, mengatakan inovasi itu diharapkan dapat menjawab kekhawatiran konsumen yang membatasi konsumsi telur asin karena persoalan kolesterol.

“Biasanya memang orang takut makan banyak telur asin karena takut kolesterol, tapi tidak dengan telur kami. Probiotik yang buat telurnya nanti rendah kolesterol,” ujar Sukri.

Klaim bahwa telur asin tersebut memiliki kadar kolesterol lebih rendah perlu dibuktikan melalui pengujian laboratorium dan perbandingan yang terukur. Penggunaan probiotik saja tidak otomatis menjamin kadar kolesterol telur menjadi lebih rendah.

Meski begitu, pengembangan produk olahan menunjukkan upaya kelompok untuk mencari pembeda di tengah persaingan pasar. Selain menjaga produksi, mereka berusaha membangun nilai jual melalui pengemasan, pengolahan, dan inovasi produk.

Pertamina mendampingi usaha dari hulu hingga hilir

Program TJSL berbasis agrokompleks yang dijalankan Pertamina melalui AFT Hasanuddin Makassar memperlihatkan pendekatan pemberdayaan yang tidak berhenti pada pemberian bantuan ternak. Dukungan sarana produksi, pendampingan teknis, dan pengembangan produk menjadi bagian dari upaya memperkuat kemampuan kelompok dalam menjalankan usaha secara mandiri.

Bagi para anggota Laleng Kessi, peningkatan produksi telur dan berkembangnya produk olahan membuka ruang untuk memperluas pasar. Pada saat yang sama, pemanfaatan sisa bahan pangan memberi nilai tambah melalui pengurangan potensi limbah.

Perjalanan Mariama dan kelompoknya memperlihatkan bagaimana usaha peternakan berskala kecil dapat berkembang ketika akses terhadap sarana produksi, pengetahuan, dan pengolahan hasil diperkuat. Dari kurang dari 70 ekor bebek, produksi sekitar 50 telur sehari, hingga kini mencapai sekitar 120 butir, perubahan itu menjadi bagian penting dari perjalanan usaha mereka.

Di Dusun Tamarunang, upaya meningkatkan pendapatan keluarga berjalan beriringan dengan pemanfaatan sumber daya yang tersedia di sekitar mereka. Melalui pendampingan Pertamina, Kelompok Peternak Bebek Laleng Kessi berupaya menjaga agar usaha yang tumbuh dari lingkungan desa itu terus memberikan manfaat ekonomi bagi para anggotanya.

Comment