MEDIAWARTA,MAKASSAR – Kalla Institute melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) melaksanakan Program Pengabdian Masyarakat Pemula (PMP) Tahun 2026, sebuah program hibah dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), dengan menggandeng Cerita Kopi sebagai mitra UMKM di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Program bertajuk “Pemberdayaan UMKM Kuliner Terdampak Pandemi melalui Penerapan Sistem Digital dan Penguatan Produksi Menuju UMKM Mandiri Berbasis Teknologi” ini diarahkan untuk memperkuat kapasitas usaha melalui digitalisasi operasional, peningkatan kualitas dan kapasitas produksi, pemasaran digital, serta peningkatan keterampilan sumber daya manusia. Pendekatan tersebut sejalan dengan rancangan PMP yang menempatkan penguatan manajemen usaha berbasis digital, pemasaran digital dan branding, serta peningkatan kapasitas produksi dan SDM sebagai fokus utama pemberdayaan.
Rangkaian kegiatan berlangsung secara bertahap sejak 20 Juni hingga 26 Juli 2026 lalu, diawali dengan Focus Group Discussion (FGD) untuk mengidentifikasi kebutuhan mitra, dilanjutkan dengan serah terima peralatan, pelatihan manajemen bisnis dan keuangan, digital marketing dan branding, hingga pelatihan SOP operasional, penggunaan aplikasi Point of Sale (POS), serta praktik penggunaan mesin espresso dan peralatan produksi kopi.
Kegiatan pelatihan diikuti oleh peserta yang seluruhnya merupakan perempuan, terdiri atas pemilik usaha, karyawan, remaja, serta ibu rumah tangga di sekitar lokasi mitra. Peralatan yang diberikan meliputi mesin espresso, grinder kopi, freezer box, cup sealer, timbangan digital, tablet Android, printer thermal, holder cup, serta perangkat pendukung produksi lainnya. Teknologi tersebut diarahkan untuk meningkatkan kualitas produk, konsistensi produksi, efisiensi proses kerja, dan digitalisasi transaksi.
Ketua Tim PMP Kalla Institute, Furqan Zakiyabarsi mengatakan bahwa program ini tidak hanya berorientasi pada pemberian peralatan, tetapi juga memastikan mitra memiliki kemampuan untuk memanfaatkan teknologi tersebut secara berkelanjutan.
“Kami ingin teknologi yang diberikan benar-benar digunakan dan memberikan perubahan dalam cara mitra menjalankan usahanya. Karena itu, pengadaan peralatan kami integrasikan dengan pelatihan, praktik, SOP, dan pendampingan. Harapannya, Cerita Kopi tidak hanya memiliki teknologi baru, tetapi juga semakin mandiri dan mampu mengelolanya secara berkelanjutan.”, Ujarnya.
Pemilik Cerita Kopi, Ayuni, menyambut positif pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, kegiatan yang diberikan memberikan pengetahuan, keterampilan, dan wawasan baru yang relevan dengan kebutuhan pengembangan usaha.
“Kami sangat terbantu dengan kegiatan ini. Banyak pengetahuan, keterampilan, dan insight baru yang kami dapatkan, mulai dari pengelolaan usaha, penggunaan teknologi, sampai pemasaran. Kami berharap apa yang sudah diberikan dapat membantu meningkatkan omzet dan kesejahteraan bagi pemilik maupun karyawan, sekaligus mendukung keberlanjutan bisnis Cerita Kopi ke depannya. Kami juga sangat berterima kasih kepada Kalla Institute dan Kemdiktisaintek atas program dan pendampingan yang diberikan.”
Program ini tidak hanya diarahkan pada peningkatan kapasitas produksi dan digitalisasi, tetapi juga pada pemberdayaan perempuan dan penguatan ekonomi lokal. Target program mencakup pemanfaatan POS secara berkelanjutan, peningkatan keterampilan digital, penguatan pemasaran, serta peningkatan kapasitas dan efisiensi produksi.
Saat ini, program masih berada dalam tahap implementasi dan pendampingan sehingga dampak terhadap omzet dan produktivitas mitra masih akan dipantau melalui proses monitoring dan evaluasi. Dengan kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat, Kalla Institute berharap program PMP ini dapat membantu Cerita Kopi tumbuh menjadi UMKM yang mandiri, adaptif terhadap teknologi, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Comment