Film Dan Bandung Sapa Penonton Makassar, Tayang Serentak 20 Agustus

MEDIAWARTA, MAKASSAR — Rumah produksi Verona Films terus membangun antusiasme penonton menjelang penayangan perdana film drama romansa “Dan Bandung”. Setelah menyambangi sejumlah kota di Pulau Jawa, rangkaian roadshow film tersebut kini berlanjut ke Makassar.

Film yang ditulis oleh Pidi Baiq dan disutradarai Rudi Soedjarwo itu sebelumnya menggelar special screening di Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta. Makassar menjadi salah satu kota yang mendapat kesempatan menyaksikan lebih awal kisah cinta Basil dan Elma sebelum film tersebut tayang secara nasional.

Kegiatan roadshow berlangsung di Nipah XXI, Makassar, Minggu (9/8/2026). Jajaran pemain dan tim produksi hadir langsung untuk menyapa penonton sekaligus berbagi cerita mengenai proses di balik penggarapan film.

Sejumlah nama turut hadir dalam agenda tersebut, di antaranya Produser Verona Films Titin Suryani, Produser Eksekutif Bedy Kunady, serta para pemeran seperti Shanna Shannon sebagai Elma, Razan Zu sebagai Doni, dan Theo Supple sebagai UU.

Kehadiran para pemain mendapat sambutan antusias dari penonton. Mereka tidak hanya berkesempatan bertemu langsung dengan para pemeran, tetapi juga mendengarkan cerita mengenai karakter, proses syuting, hingga pengalaman membangun chemistry selama produksi.

Sesi tanya jawab menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian. Para pemain dan tim produksi mengungkap sejumlah cerita mengenai dinamika selama proses pengambilan gambar, termasuk pengalaman menjalani syuting di Kota Bandung yang menjadi latar penting dalam film.

Produser Verona Films, Titin Suryani, mengatakan sambutan penonton di berbagai kota memberikan energi positif bagi seluruh tim produksi.

“Melihat antusiasme penonton di Makassar dan kota-kota sebelumnya, benar-benar memberikan energi luar biasa bagi kami di Verona Films. Film ‘Dan Bandung’ kami garap dengan penuh rasa cinta dan dedikasi tinggi bersama Mas Rudi Soedjarwo dan Ayah Pidi Baiq,” ujar Titin.

Menurut Titin, respons positif dalam rangkaian special screening menjadi motivasi bagi Verona Films untuk memperkenalkan kisah Basil dan Elma kepada lebih banyak penonton di Indonesia.

Bukan Sekadar Kisah Romansa

Titin menjelaskan, “Dan Bandung” memiliki pendekatan cerita yang berbeda meski sama-sama menghadirkan kekuatan emosi dalam hubungan antarkarakter.

Film tersebut merupakan adaptasi dari novel “Dan Bandung” karya Pidi Baiq. Menurut Titin, cerita film tidak dapat dilepaskan dari kekuatan perasaan yang menjadi salah satu elemen utama karya tersebut.

“Jadi sebenarnya gini, ini ceritanya berbeda banget, dan ini dari novel ‘Dan Bandung’ karya Pidi Baiq. Ceritanya juga sangat berbeda dengan ‘Ada Apa Dengan Cinta’, tapi sutradaranya Rudi Soedjarwo, karena beliau sudah pengalaman dengan film itu, sehingga banyak yang menilai ada kemiripan dari sisi rasa dan kedalaman emosi,” jelasnya.

Ia mengatakan, salah satu pesan yang ingin ditonjolkan dalam film adalah bagaimana sebuah tempat dapat memiliki hubungan emosional dengan seseorang.

“Cerita ini lebih ke bercerita tentang perasaan. Di Jembatan Asia Afrika Bandung itu ada kalimat ‘dan Bandung, bagiku bukan hanya geografis, tapi ada perasaan’. Itu menggambarkan emosi yang dalam. Mungkin kemiripan itu ada di rasa tersebut,” lanjut Titin.

Menariknya, film ini juga sengaja menghadirkan akhir cerita yang tidak sepenuhnya ditutup. Menurut Titin, keputusan tersebut memberikan ruang kepada penonton untuk menafsirkan sekaligus membuka kemungkinan cerita berlanjut.

“Memang dibuat agak menggantung untuk penikmat film. Apakah akan ada kelanjutan, nanti penonton yang menentukan. Kalau memang banyak yang meminta, insya Allah bisa dilanjut,” katanya.

Sementara itu, Produser Eksekutif Bedy Kunady menegaskan bahwa film “Dan Bandung” bukanlah salinan utuh dari novel. Proses adaptasi dilakukan dengan menyesuaikan struktur cerita agar dapat diterjemahkan secara efektif ke medium layar lebar.

“Filmnya tidak seratus persen sama dengan novelnya, tapi lebih kita adaptasi agar sesuai dengan format film. Kalau terlalu sama, bisa terasa kaku. Ada treatment dari Mas Rudi dan kebebasan bagi pemain untuk membangun karakter secara natural,” jelas Bedy.

Selain romansa remaja, film tersebut juga membawa tema persahabatan serta hubungan anak dan orang tua. Bedy mengatakan, relasi antarmanusia menjadi bagian penting dalam cerita.

“Film ini romans remaja yang kuat. Selain itu juga mengangkat nilai persahabatan yang saling mendukung, serta relasi antara anak dan orang tua yang harus dijaga dengan komunikasi yang baik,” ujarnya.

Makassar Dipilih karena Potensi Penonton

Bedy juga mengungkap alasan Makassar dipilih sebagai salah satu kota dalam rangkaian roadshow film “Dan Bandung”. Selain memiliki kedekatan personal dengan Kota Makassar, keputusan tersebut juga didasarkan pada potensi pasar penonton film di kota ini.

“Secara subjektif saya suka makanan Makassar. Tapi secara data, Makassar adalah kota terbesar di luar Jawa dari sisi penonton film. Antusiasmenya luar biasa, jadi kami memilih Makassar sebagai kota pertama di luar Jawa yang kami kunjungi,” ungkapnya.

Film “Dan Bandung” dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 20 Agustus 2026. Kehadiran roadshow di Makassar menjadi bagian dari upaya tim produksi memperkenalkan karakter dan cerita film tersebut kepada penonton sebelum memasuki masa penayangan nasional.

Comment