MEDIAWARTA, SOROWAKO – Biaya pendidikan menjadi salah satu pertimbangan penting bagi calon mahasiswa sebelum memilih perguruan tinggi. Di Politeknik Sorowako, Uang Kuliah Tunggal (UKT) ditetapkan sebesar Rp6 juta per semester, yang mencakup sejumlah kebutuhan pendidikan dan kegiatan mahasiswa.
Direktur Politeknik Sorowako Harjuma, S.S.T., M.T., menjelaskan, UKT tersebut mencakup SPP serta biaya operasional lainnya. Sebagian besar dana yang terkumpul juga dialokasikan kembali untuk mendukung aktivitas mahasiswa.
“UKT kami saat ini Rp6 juta per semester. UKT ini sudah mencakup semuanya, mulai dari SPP hingga biaya-biaya lainnya,” ujar Harjuma, Selasa (28/7/2026).
Menurut Harjuma, sebagian dana UKT digunakan untuk membiayai berbagai kegiatan mahasiswa, termasuk kunjungan industri yang rutin dilaksanakan setiap tahun.

Mahasiswa Politeknik Sorowako dibawa mengunjungi sejumlah industri di Pulau Jawa untuk mendapatkan pengalaman dan wawasan yang berbeda dari lingkungan pembelajaran di kampus. Biaya kegiatan tersebut telah dimasukkan dalam komponen UKT.
Pendidikan di Politeknik Sorowako, kata Harjuma, tidak hanya diarahkan untuk membentuk mahasiswa yang menguasai keterampilan teknis seperti pengelasan, pembubutan dan pengoperasian mesin. Kemampuan nonteknis atau soft skills juga menjadi bagian penting dalam proses pendidikan.
“Anak-anak di sini bukan hanya kami cetak menjadi jago las atau jago bubut, tetapi soft skills juga penting untuk kami fasilitasi,” kata Harjuma.
Dukungan terhadap pengembangan mahasiswa juga diberikan ketika mereka mengikuti kompetisi. Salah satu contohnya adalah keikutsertaan mahasiswa Politeknik Sorowako dalam kompetisi pengelasan di Surabaya.
“Anak-anak kami ikut kompetisi pengelasan di Surabaya. Keberangkatan mereka sepenuhnya dibiayai oleh kampus melalui alokasi UKT,” ujar Harjuma.
Untuk penerimaan mahasiswa baru, biaya pendaftaran ditetapkan Rp350 ribu untuk jalur umum dan Rp500 ribu untuk jalur mandiri. Setelah dinyatakan diterima dan melakukan registrasi ulang, mahasiswa membayar UKT Rp6 juta per semester serta uang pembangunan sebesar Rp5 juta.
Harjuma menjelaskan, uang pembangunan Rp5 juta tersebut mulai diterapkan sejak tahun lalu. Dana tersebut digunakan secara bertahap untuk pembangunan dan pengembangan fasilitas kampus.
“Uang pembangunan ini mulai kami terapkan sejak tahun lalu. Dana yang terkumpul kami gunakan untuk pembangunan fasilitas kampus agar semakin mendukung kebutuhan mahasiswa,” kata Harjuma.
Politeknik Sorowako juga memiliki program beasiswa internal. Setiap semester, tiga mahasiswa terbaik pada masing-masing program studi mendapatkan beasiswa berupa pembebasan SPP.

Selain itu, dukungan pemerintah melalui LLDIKTI turut membuka akses KIP Kuliah bagi mahasiswa yang mengalami keterbatasan ekonomi. Saat ini, penerima KIP Kuliah di Politeknik Sorowako tercatat sekitar 100 mahasiswa atau sekitar 30 persen dari jumlah mahasiswa.
Politeknik Sorowako merupakan institusi pendidikan vokasi yang berdiri sejak 1991. Lembaga tersebut awalnya bernama Inco Sumitomo Technical Training Center, kemudian berubah menjadi Akademi Teknik Sorowako pada 1993 dan bertransformasi menjadi Politeknik Sorowako pada 20 Mei 2025.
Saat ini, Politeknik Sorowako memiliki tiga program studi, yakni Perawatan dan Perbaikan Mesin jenjang Diploma III, Rekayasa Perancangan Mekanik jenjang Diploma IV, serta Teknologi Rekayasa Pengolahan dan Pabrikasi jenjang Diploma IV.
Jumlah mahasiswa aktif mencapai 408 orang. Jumlah tersebut sengaja dijaga agar tetap sebanding dengan kapasitas fasilitas praktikum yang tersedia.
“Kami membatasi jumlah mahasiswa agar setiap anak mendapatkan pengalaman praktik yang optimal sesuai dengan fasilitas yang tersedia,” ujar Harjuma.
Sebagai institusi pendidikan vokasi, proses penerimaan mahasiswa baru juga mempertimbangkan kesiapan calon mahasiswa menghadapi pembelajaran berbasis praktik. Tahapannya meliputi tes teori, tes fisik, wawancara, dan tes kesehatan.
Menurut Harjuma, tes fisik diperlukan untuk melihat kesiapan calon mahasiswa menjalani pembelajaran vokasi yang memiliki intensitas praktik cukup tinggi.
“Mahasiswa kami kuliah Senin sampai Jumat, mulai pukul 07.00 sampai 15.00. Ketika mendapatkan jadwal praktik, mereka bisa berada di mesin selama satu hari penuh. Karena itu, ketahanan fisik perlu dipastikan sejak awal,” jelas Harjuma.
Tes wawancara juga dilakukan untuk memberikan gambaran kepada calon mahasiswa mengenai sistem pendidikan vokasi di Politeknik Sorowako. Sementara tes kesehatan dilakukan secara lebih menyeluruh untuk memastikan mahasiswa siap mengikuti aktivitas praktik di bengkel.
Setelah dinyatakan diterima, mahasiswa mengikuti PKKMB, pembinaan karakter, LDK, serta matrikulasi selama dua minggu. Program matrikulasi diberikan untuk memperkecil kesenjangan kemampuan dasar mahasiswa yang berasal dari latar belakang pendidikan berbeda.
Dalam pengembangan kompetensi, Politeknik Sorowako menjalin kerja sama dengan dunia industri dan sejumlah perguruan tinggi vokasi. Kerja sama antara lain dilakukan dengan Politeknik Manufaktur Bandung dan Politeknik Negeri Jakarta, termasuk dalam pengembangan sumber daya manusia dan kurikulum.
Khusus mahasiswa Diploma III, terdapat kesempatan menjalani kerja industri selama satu semester. Mahasiswa ditempatkan di industri mitra untuk mendapatkan pengalaman langsung sebelum memasuki dunia kerja.
Politeknik Sorowako juga mengembangkan program campus hiring dengan menggandeng sejumlah perusahaan, termasuk perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan di sekitar Sorowako.
“Beberapa tahun terakhir kami juga mengadakan campus hiring. Kami bekerja sama dengan sejumlah perusahaan tambang di sekitar Sorowako untuk mempertemukan lulusan dengan kebutuhan tenaga kerja industri,” kata Harjuma.
Meski berada dalam naungan PT Vale, lulusan Politeknik Sorowako tidak otomatis menjadi karyawan perusahaan tersebut. Jika PT Vale membuka rekrutmen, alumni tetap harus mengikuti proses seleksi sebagaimana pelamar lainnya.
“Kalau PT Vale membuka lowongan, alumni kami dipersilakan untuk melamar dan mengikuti proses seleksi seperti peserta lainnya. Jadi peluangnya sama,” tegas Harjuma.
Politeknik Sorowako merupakan kampus nasional sehingga kesempatan mendaftar terbuka bagi siapa saja. Saat ini, mahasiswa masih didominasi putra-putri Luwu Timur sekitar 67 persen, disusul mahasiswa dari Luwu Utara, Palopo, Toraja, Makassar, serta sejumlah daerah lainnya.
Dari sisi pembiayaan operasional, PT Vale disebut menanggung sekitar 95 persen biaya operasional kampus. Sementara kontribusi yang berasal dari mahasiswa disebut sekitar 5 persen, dengan pertimbangan sebagian besar dana UKT kembali digunakan untuk kepentingan mahasiswa melalui kegiatan, fasilitas, dan program pengembangan kompetensi.
“Seluruh aset yang ada di sini merupakan aset PT Vale. Untuk biaya operasional, sekitar 95 persen ditanggung PT Vale. Jadi kontribusi mahasiswa secara persentase sekitar 5 persen, karena sebagian besar UKT kembali lagi untuk kebutuhan mahasiswa,” ujar Harjuma.
Kunjungan ke Politeknik Sorowako juga memperlihatkan fasilitas praktik yang menjadi bagian penting dalam pembelajaran vokasi. Di lantai pertama terdapat area praktik dengan sejumlah mesin, antara lain mesin milling, mesin bubut, mesin gerinda, gerinda silinder, dan gerinda pedestal untuk membentuk peralatan potong.
Selain ruang praktik, kampus memiliki ruang kelas teori dan laboratorium mesin. Terdapat pula fasilitas peminjaman peralatan bagi mahasiswa yang membutuhkan alat ukur dan perlengkapan selama menjalani praktikum.
Dengan pola pembelajaran yang memadukan teori, praktik, pengalaman industri, kompetisi, dan pengembangan soft skills, Politeknik Sorowako menempatkan kesiapan mahasiswa menghadapi dunia kerja sebagai salah satu bagian penting dalam proses pendidikannya.

Comment