MEDIAWARTA, MAKASSAR – Berbekal sepeda ontel pinjaman dari bos tahu, Bambang merintis usaha dengan berjualan tahu, tempe, dan kerupuk dari rumah ke rumah. Lebih dari dua dekade berlalu, usaha yang dimulainya pada 2004 itu kini berkembang menjadi produksi kerupuk rumahan yang mampu menghasilkan sekitar 230–250 kilogram per hari.
Bagi Bambang, perjalanan membangun usaha bukan perkara mudah. Sebelum memiliki tempat produksi sendiri, pria asal Lampung tersebut harus mengayuh sepeda pinjaman untuk menjajakan dagangannya. Berbagai jenis barang dijualnya, mengikuti peluang yang bisa menghasilkan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
“Pokoknya apa yang bisa dijual, kujual,” ujar Bambang saat menceritakan awal perjalanan usahanya, Jumat (23/10/2026).

Dari pengalaman berdagang keliling, Bambang perlahan menemukan jalan di usaha kerupuk. Ia mulai belajar menggoreng dan mengembangkan produk tersebut hingga akhirnya menjadikannya sebagai sumber penghidupan utama. Usaha yang dirintis sejak 2004 itu kemudian berkembang di rumah yang ditempatinya sejak 2011.
Kini, produksi kerupuknya mencapai sekitar 230–250 kilogram sehari, menyesuaikan kondisi pemasaran. Aktivitas produksi berlangsung setiap hari, dari pagi hingga pekerjaan selesai. Ketika hasil produksi hari itu habis terserap pasar, Bambang kembali menyiapkan produksi berikutnya untuk memenuhi permintaan pelanggan.
Usaha tersebut menawarkan 11 varian kerupuk. Ragam produk ini dipasarkan melalui pagandeng atau pedagang keliling, serta pembeli yang datang langsung ke tempat produksi. Sejumlah rumah makan dan pedagang pasar turut menjadi bagian dari jaringan pemasaran yang menjaga usaha Bambang tetap berjalan.
Jangkauan penjualannya tidak hanya terbatas di Makassar. Produk kerupuknya juga dipasarkan hingga Kabupaten Gowa dan Maros. Bahkan, pada masa sebelumnya, Bambang pernah mengirim kerupuk ke Papua, meski pengiriman tersebut tidak berlanjut.
Di tengah perkembangan usahanya, Bambang turut mempekerjakan delapan orang yang berasal dari lingkungan sekitar. Keberadaan usaha ini tidak hanya menjadi sumber pendapatan bagi keluarganya, tetapi juga membuka kesempatan kerja bagi warga di sekitarnya.
Bambang juga pernah memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI untuk membantu kebutuhan pembangunan rumahnya.
Perjalanan Bambang memperlihatkan bagaimana usaha kecil dapat tumbuh melalui ketekunan, kemampuan membaca peluang, dan pengelolaan pendapatan secara bertahap. Dari berjualan menggunakan sepeda pinjaman, ia kini menjalankan usaha kerupuk dengan produksi ratusan kilogram setiap hari sekaligus menggerakkan ekonomi warga di sekitarnya.



Comment