Lewat SIPeKAINGE Fun Walk, BI Ajak Warga Sulsel Waspada Penipuan Transaksi Keuangan Digital

MEDIAWARTA,MAKASSAR,-Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Selatan terus memperkuat edukasi dan pelindungan konsumen di tengah pesatnya perkembangan transaksi keuangan digital. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan SIPeKAINGE Fun Walk yang mengajak masyarakat lebih waspada terhadap berbagai modus penipuan keuangan digital atau scam.

Kegiatan yang digelar di kawasan Car Free Day (CFD), Jalan Jenderal Sudirman, Makassar, Minggu (1/11/2026), diikuti sekitar 1.000 peserta dari berbagai kalangan dan lintas generasi. Peserta berasal dari pelaku industri perbankan, pemerintah provinsi dan kota, mitra strategis BI Sulsel, hingga masyarakat umum.

Kegiatan ini sekaligus menjadi penutup rangkaian Pekan Pelindungan Konsumen Sulawesi Selatan 2026 yang telah berlangsung sejak 26 Oktober 2026.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda, mengatakan SIPeKAINGE Fun Walk tidak sekadar menjadi ajang olahraga dan kebersamaan, tetapi juga momentum untuk menanamkan kesadaran bahwa keamanan dalam bertransaksi digital merupakan tanggung jawab bersama.

Menurutnya, kehadiran peserta dari berbagai kelompok usia, mulai anak-anak, orang tua hingga lanjut usia, mencerminkan pesan utama kegiatan tersebut, yakni pentingnya membangun kepedulian antargenerasi dalam menghadapi ancaman penipuan digital.

“Kehadiran seluruh anggota keluarga mencerminkan pesan utama kegiatan kita, yaitu menjaga keamanan bertransaksi adalah tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.

Rizki menjelaskan, perkembangan teknologi dan layanan pembayaran digital telah memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Melalui telepon genggam, masyarakat dapat berbelanja, membayar tagihan hingga mengirim uang kepada keluarga secara cepat dan praktis.

Namun, di balik kemudahan tersebut, terdapat risiko kejahatan digital yang perlu diwaspadai, terutama penipuan transaksi keuangan dengan berbagai modus yang semakin beragam.

Berdasarkan data Indonesia Anti Scam Center (IASC), sejak mulai beroperasi pada November 2024 hingga 30 September 2026, tercatat sekitar 700 ribu laporan penipuan transaksi keuangan. Selain itu, lebih dari 1,3 juta rekening yang terindikasi terkait penipuan telah dilaporkan dan diverifikasi

“Angka-angka ini mengingatkan kita bahwa penipuan bukanlah persoalan yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Modusnya semakin beragam, mulai dari pesan undian berhadiah, telepon yang mengaku sebagai customer service, tautan palsu, hingga pelaku yang berpura-pura menjadi anggota keluarga dan meminta transfer dana dengan alasan mendesak,” jelas Rizki.

Ia menegaskan, kejahatan penipuan digital tidak mengenal usia. Anak muda yang akrab dengan teknologi, orang tua yang aktif bertransaksi, hingga lansia sama-sama berpotensi menjadi korban.

Bahkan, pelaku penipuan kerap memanfaatkan sisi emosional korban, seperti rasa percaya, kepanikan, hingga kasih sayang terhadap keluarga untuk melancarkan aksinya.

Karena itu, menurut Rizki, upaya pelindungan konsumen tidak cukup hanya mengandalkan teknologi keamanan dan edukasi kepada individu. Diperlukan pula kebiasaan saling peduli dan mengingatkan yang dimulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga.

Pesan tersebut sejalan dengan nilai kearifan lokal masyarakat Sulawesi Selatan, yaitu *Sipakainge* yang bermakna saling mengingatkan.

Nilai inilah yang menjadi inspirasi penyelenggaraan SIPeKAINGE Fun Walk sebagai gerakan membangun kepedulian antargenerasi agar setiap anggota keluarga dapat menjadi pengingat sekaligus pelindung bagi anggota keluarga lainnya.

“Yang muda membantu yang tua, yang tua membimbing yang muda. Anak dan cucu dapat membantu orang tua serta kakek nenek dalam mengenal modus penipuan digital. Sebaliknya, para orang tua dapat menanamkan kebiasaan berhati-hati dan tidak mudah percaya kepada anak-anak. Semuanya saling menjaga, semuanya saling melindungi,” ungkapnya.

Lebih lanjut, BI Sulsel ingin mendorong pemahaman bahwa edukasi pelindungan konsumen tidak harus selalu dilakukan melalui seminar atau ruang kelas. Edukasi dapat dimulai dari percakapan sederhana di rumah, saat berjalan bersama keluarga, maupun ketika mendampingi orang tua menggunakan layanan pembayaran digital.

Untuk menghindari penipuan keuangan digital, Rizki mengajak masyarakat membiasakan tiga langkah sederhana.

Pertama, saling mengingatkan agar tidak mudah percaya terhadap pesan, panggilan telepon, maupun tawaran mencurigakan. Kedua, saling mendampingi ketika ada anggota keluarga yang membutuhkan bantuan dalam melakukan transaksi digital.

Ketiga, membangun keterbukaan dengan segera bercerita kepada keluarga apabila menerima permintaan transfer mendesak, mendapatkan tautan tidak jelas, atau mengalami dugaan penipuan.

“Kalau ragu, stop dulu. Jangan terburu-buru melakukan transaksi. Data pribadi, PIN, kata sandi, atau kode OTP tidak untuk dibagikan kepada siapa pun,” tegasnya.

Masyarakat juga diimbau tidak sembarangan membuka tautan mencurigakan ataupun mengirimkan uang karena tekanan dan ancaman dari pihak yang tidak dikenal.

Apabila menghadapi situasi tersebut, masyarakat diminta berhenti sejenak, mengonfirmasi informasi kepada keluarga, melakukan pemeriksaan ulang, serta menghubungi kanal resmi penyedia layanan keuangan jika diperlukan.

BI Sulsel bersama para mitra berkomitmen untuk terus memperkuat pelindungan konsumen dan meningkatkan literasi masyarakat agar mampu memanfaatkan layanan sistem pembayaran secara aman, nyaman, dan bertanggung jawab.

Rizki berharap, peserta SIPeKAINGE Fun Walk tidak hanya membawa pulang pengalaman olahraga dan kebersamaan keluarga, tetapi juga semangat menjadi duta pelindungan konsumen di lingkungan masing-masing.

“Ceritakan kembali pesan hari ini kepada keluarga, saudara, sahabat, dan tetangga. Dengan demikian, semangat Sipakainge tidak berhenti di garis finis, tetapi terus hidup dalam kebiasaan sehari-hari,” tutupnya.

Comment