Dari Makassar ke Istanbul, BI Sulsel Buka Jalan Fesyen Eiwa ke Pasar Global

Eiwa hadir di Fashion show IFCO Istanbul Turki dengan membawa Wastra Nusantara. Foto : Dok. Pribadi

MEDIAWARTA, MAKASSAR – Sebuah busana tidak selalu berhenti sebagai pakaian. busana tidak selalu berhenti sebagai pakaian. Di tangan pelaku usaha kreatif, selembar kain, rangkaian payet, kerang, dan bebatuan dapat berubah menjadi produk bernilai ekonomi yang menyeberangi batas negara. 

Perjalanan itu sedang dijalani Eiwa, jenama fesyen perempuan asal Makassar yang dirintis sejak 2015. Dari usaha yang semula memproduksi pakaian kasual dan seragam sekolah, Eiwa perlahan mengubah arah bisnis dengan mengembangkan busana formal dan pesta, sekaligus mengangkat kekayaan wastra Nusantara ke dalam desain yang lebih modern.

Perubahan tersebut tidak terjadi dalam semalam. Di balik koleksi dress, kebaya hingga baju bodo yang kini menjadi identitas Eiwa, ada proses panjang membangun kemampuan produksi, mengelola usaha, membaca pasar, hingga belajar memahami kebutuhan pembeli di luar negeri.

Bagi Eiwa, tantangan terbesar bukan sekadar membuat busana yang indah. Produk harus memiliki identitas, kualitas yang konsisten, harga yang kompetitif, serta kemampuan memenuhi permintaan ketika pasar yang dibidik berada ribuan kilometer dari Makassar.

Creative Director sekaligus Owner CVEA Corporation, Alvira Ramdhani, mengatakan salah satu kekuatan Eiwa terletak pada pengerjaan detail secara manual. Bordir, aplikasi renda, dan payet dikerjakan dengan perhatian khusus agar setiap koleksi memiliki karakter.

“Payetnya agak sedikit spesial karena kami mengombinasikan berbagai macam material, bukan hanya manik-manik biasa, tapi juga kerang dan bebatuan melalui proses manipulasi pabrik,” ujar Alvira, Sabtu (5/9/2026).

Keunikan itu menjadi modal penting ketika Eiwa mulai membawa produk lokal ke pasar yang lebih luas. Namun, kreativitas saja ternyata tidak cukup. Eiwa harus membenahi sisi bisnis agar mampu naik kelas dari usaha yang berorientasi produksi menjadi usaha yang siap berhadapan dengan pasar internasional.

Ketika Pendampingan Mengubah Cara Pandang

Titik perubahan Eiwa semakin terlihat setelah mendapat pendampingan dari Bank Indonesia Sulawesi Selatan (BI Sulsel).

Pertemuan dengan BI Sulsel bermula ketika Eiwa mengikuti kegiatan pameran dan festival syariah pada 2021–2022. Dari kegiatan tersebut, hubungan kemudian berkembang menjadi pendampingan yang tidak hanya berfokus pada promosi produk, tetapi juga menyentuh cara Eiwa mengelola bisnis.

Alvira menuturkan pendampingan tersebut membantu Eiwa memahami sejumlah aspek yang sebelumnya belum menjadi perhatian utama, mulai dari pola pikir kewirausahaan, manajemen usaha, pemasaran, pengelolaan keuangan, hingga akses pembiayaan dan pasar.

Business matching menjadi salah satu bagian penting. Bagi UMKM, bertemu buyer bukan sekadar kesempatan memperkenalkan produk. Pertemuan itu juga menjadi ruang untuk mengetahui standar pasar, membaca selera konsumen, serta memahami kemampuan produksi yang dibutuhkan ketika pesanan datang dalam skala lebih besar.

“Pendampingan juga dilakukan melalui business matching, pelatihan, pameran, serta kegiatan yang mempertemukan pelaku usaha dengan pasar yang lebih luas,” kata Alvira.

Program Rewako dan Rewako Fashion turut menjadi bagian dari proses penguatan kapasitas tersebut. Eiwa kemudian mengikuti kurasi melalui program IKRA yang membuka peluang bagi pelaku industri kreatif untuk mendapatkan pendampingan sekaligus memperluas jejaring pameran hingga tingkat nasional dan internasional.

Di titik inilah peran pendampingan menjadi penting. BI tidak berhenti pada upaya membuat produk UMKM terlihat di ruang pamer, tetapi ikut mendorong pelaku usaha memahami bahwa untuk naik kelas, produk harus diikuti sistem bisnis yang mampu menopangnya.

Dari Wastra Makassar ke Istanbul

Kesempatan untuk menguji kemampuan tersebut datang ketika Eiwa berpartisipasi dalam Istanbul Fashion Connection (IFCO) di Istanbul, Turki.

Panggung itu mempertemukan Eiwa dengan pasar yang karakter konsumennya berbeda dari Indonesia. Tantangannya bukan membawa busana tradisional ke luar negeri semata, melainkan bagaimana membuat kekayaan wastra Indonesia dapat dipahami dan diterima pasar global.

Eiwa memilih jalan adaptasi.

Wastra tidak dilepas dari identitasnya, tetapi diterjemahkan ke dalam bentuk yang lebih universal. Untuk menyasar pasar Timur Tengah, misalnya, material tradisional dikembangkan menjadi abaya, dress, dan outer. Kain serta ornamen tradisional kemudian dipadukan dengan material seperti sutra, lace, dan jacquard.

Strategi tersebut menunjukkan bahwa membawa produk lokal ke pasar global bukan berarti meninggalkan identitas. Sebaliknya, identitas budaya justru menjadi nilai pembeda yang kemudian dikemas sesuai kebutuhan konsumen.

Respons dari calon pembeli internasional pun mulai terbentuk. Peluang pasar kemudian berkembang hingga pengiriman produk secara berkala ke sejumlah negara, termasuk Malaysia dan Singapura.

Bagi Eiwa, pengalaman tersebut menghadirkan pelajaran penting: pasar internasional tidak bisa ditaklukkan hanya dengan mengandalkan cerita tentang produk lokal. Buyer membutuhkan kepastian mengenai kualitas, kapasitas produksi, waktu pengerjaan, harga, hingga kemampuan pengiriman.

Tantangan Setelah Pintu Pasar Terbuka

Ironisnya, keberhasilan mendapatkan akses pasar justru menghadirkan tantangan baru.

Sebagian produk Eiwa masih dikerjakan secara handmade. Karakter tersebut menjadi kekuatan karena membuat produk memiliki sentuhan personal, tetapi sekaligus menjadi kendala ketika permintaan meningkat.

Buyer internasional dapat meminta produk dalam jumlah besar dengan tenggat produksi yang relatif singkat. Di sisi lain, kapasitas produksi harus tetap dijaga agar kualitas tidak turun.

Persoalan berikutnya adalah logistik. Biaya pengiriman yang tinggi dapat memengaruhi harga akhir produk dan menjadi faktor penting dalam negosiasi dengan buyer luar negeri.

Dengan kata lain, pintu pasar global memang telah terbuka, tetapi Eiwa masih harus membangun “jalan” agar dapat melewatinya secara berkelanjutan.

Penguatan kapasitas menjadi kebutuhan berikutnya.

Salah satunya dilakukan melalui kegiatan peningkatan kapasitas bersama BI Sulsel di Bali pada 23–29 Agustus lalu. Bersama pelaku industri fesyen, wastra, dan kriya lainnya, Eiwa mempelajari sistem produksi, penerapan standar operasional prosedur (SOP), pengelolaan butik, hingga strategi pengembangan produk.

Pembelajaran tersebut menjadi bagian dari upaya menjawab persoalan yang muncul setelah Eiwa memperoleh akses pasar yang lebih luas.

Dari UMKM Menjadi Penggerak Ekonomi

Kisah Eiwa memperlihatkan bahwa perjalanan sebuah UMKM menuju pasar global tidak hanya berbicara tentang peningkatan omzet satu perusahaan.

Ketika sebuah produk lokal mampu menembus pasar luar negeri, rantai ekonomi yang lebih panjang ikut bergerak. Produksi membutuhkan tenaga kerja, bahan baku menciptakan permintaan bagi pemasok, sementara distribusi dan logistik membuka aktivitas ekonomi lainnya.

Di sektor fesyen berbasis wastra, nilai tambah juga tidak berhenti pada produk akhirnya. Identitas budaya yang melekat pada kain dan kerajinan tangan dapat menjadi kekuatan ekonomi apabila dikembangkan melalui desain, pemasaran, dan model bisnis yang tepat.

Di sinilah penguatan ekonomi dan ekonomi syariah dapat bertemu.

Fesyen modest, penggunaan wastra, serta pengembangan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar Muslim membuka ruang bagi industri kreatif untuk masuk ke ekosistem ekonomi dan keuangan syariah yang lebih luas. Bagi UMKM seperti Eiwa, peluang tersebut bukan hanya soal menjual lebih banyak produk, tetapi membangun usaha yang semakin tertata, berkelanjutan, dan mampu bersaing.

Perjalanan Eiwa dari Makassar menuju Istanbul dengan demikian bukan sekadar cerita tentang sebuah jenama fesyen yang mengikuti pameran di luar negeri.

Ini adalah cerita tentang bagaimana UMKM belajar naik kelas.

Pendampingan membuka pengetahuan. Kurasi membuka jejaring. Business matching mempertemukan produk dengan pasar. Pameran internasional menguji kemampuan. Sementara pembenahan produksi dan manajemen menjadi bekal agar peluang tersebut tidak berhenti sebagai pengalaman sesaat.

Pada akhirnya, keberhasilan UMKM menembus pasar global tidak hanya diukur dari seberapa jauh produknya dikirim. Ukurannya adalah seberapa kuat usaha tersebut bertahan setelah pintu pasar terbuka.

Eiwa masih berada dalam perjalanan itu.

Dari Makassar, wastra yang dahulu hanya menjadi bagian dari identitas lokal kini mulai mencari tempat di pasar internasional. Jika kapasitas produksi, kualitas, efisiensi, dan tata kelola terus diperkuat, perjalanan tersebut dapat menjadi lebih dari sekadar kisah sukses sebuah jenama.

Ia bisa menjadi gambaran bahwa ketika UMKM diperkuat dengan pengetahuan, akses pasar, dan ekosistem yang tepat, produk lokal tidak harus berhenti di pasar sendiri.

Ia dapat tumbuh, menciptakan nilai tambah, dan ikut membawa pertumbuhan ekonomi dari daerah ke panggung global.

Comment