PT Vale Andalkan LGS Kendalikan Air Limpasan Tambang Sebelum Masuk Danau Matano

Seorang petugas di fasilitas Lamella Gravity Settler (LGS) Pakalangkai, Sorowako, menunjukkan sampel air berwarna merah muda dan bening. Ini menjadi bukti komitmen PT Vale Indonesia dalam mengelola limbah cair operasional pertambangan nikel, memastikan air yang dialirkan kembali ke lingkungan memenuhi standar kualitas yang ditetapkan. Foto : Masyudi Firmansyah/Mediawarta

MEDIAWARTA, SOROWAKO – Air hujan yang jatuh di kawasan tambang membawa partikel tanah dan material lain yang berpotensi meningkatkan kekeruhan sebelum alirannya mencapai badan air. Di kawasan Sorowako, Sulawesi Selatan, pengelolaan air limpasan tambang menjadi bagian penting untuk menjaga kualitas perairan yang bermuara ke Danau Matano.

PT Vale Indonesia Tbk mengandalkan fasilitas Lamella Gravity Settler (LGS) di kawasan Pakalangkai sebagai salah satu sistem pengolahan air limpasan tambang. Fasilitas tersebut dirancang untuk mengendalikan Total Suspended Solids (TSS) atau padatan tersuspensi serta parameter kromium heksavalen (Cr-VI) sebelum air dialirkan melalui titik kepatuhan (compliance point) menuju badan air.

Andi Burhanuddin dari Hydrology Planning & Compliance PT Vale menjelaskan, pengelolaan air limpasan tidak hanya berfokus pada kualitas air, tetapi juga pengaturan debit. Pengendalian aliran diperlukan agar air dalam jumlah besar tidak menggerus permukaan tanah maupun meningkatkan risiko longsor.

Menurut dia, PT Vale memiliki 11 titik penataan (compliance points) dalam sistem pengelolaan air. Fasilitas LGS di kawasan Larona Catchment Area (LCA) menjadi salah satu fasilitas penting karena alirannya berhubungan dengan kawasan yang berdekatan dengan aktivitas masyarakat.

Keindahan alam Sorowako berpadu dengan aktivitas industri yang bertanggung jawab. Petugas PT Vale Indonesia yang sedang bertugas di area bak Lamella Gravity Settler (LGS) Pakalangkai, Sorowako, berlatar belakang langit biru dan pesawat yang sedang terbang. Pemandangan ini menegaskan bahwa kegiatan industri dapat berjalan selaras dengan keindahan alam di Sulawesi Selatan. Foto: Masyudi Firmansyah/Mediawarta

LGS tersebut memiliki dimensi sekitar 100 × 80 meter dengan kedalaman fasilitas sekitar 25 meter dan kapasitas tampung sekitar 4.000 meter kubik. Dalam proses pengolahan, PT Vale menggunakan fero sulfat (ferrous sulphate) untuk membantu proses koagulasi dan flokulasi, termasuk dalam pengendalian partikel halus serta Cr-VI.

Burhanuddin mengatakan, fasilitas LGS mulai dibangun sekitar 2011 dan beroperasi sejak 2015. Teknologi tersebut dikembangkan melalui kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Dibandingkan kolam pengendapan konvensional, LGS membutuhkan lahan yang lebih kecil dengan rasio sekitar 1:10.

“Fasilitas LGS seluas 1.000 meter persegi setara dengan kapasitas kolam konvensional sekitar 10.000 meter persegi,” kata Burhanuddin dalam diskusi mengenai pengelolaan air limpasan tambang di fasilitas LGS PT Vale, Selasa (28/7/2026).

Menghadapi Limpasan Saat Hujan Lebat

Tantangan pengelolaan air limpasan semakin besar ketika curah hujan tinggi. Volume air yang masuk ke sistem dapat mencapai sekitar 20.000 meter kubik. Untuk mengendalikan kondisi tersebut, PT Vale menggunakan kolam retensi di bagian hulu sebagai tempat penampungan sementara.

Air kemudian dialirkan secara bertahap sesuai kapasitas pengolahan LGS yang mencapai sekitar 4.000 meter kubik per jam. Jika terjadi limpasan berlebih, air diarahkan menuju kolam Pakalangkai dan kolam lanjutan di bawah jembatan yang juga dilengkapi sistem injeksi fero sulfat.

Burhanuddin menjelaskan, proses pengolahan air di LGS berlangsung relatif cepat. Waktu tinggal air dalam sistem berkisar satu hingga dua jam, tergantung kondisi debit dan proses pengolahan.

Tahapannya dimulai dari pengambilan sampel air yang masuk, penghitungan debit, pemberian fero sulfat secara proporsional, hingga pemeriksaan kembali kualitas air pada titik pengeluaran. Setelah memenuhi persyaratan, air dialirkan melalui compliance point menuju badan air.

“Pengawasan dilakukan melalui pemantauan otomatis maupun manual oleh tim laboratorium,” ujarnya.

TSS Dikendalikan Sebelum Air Keluar

Salah satu parameter yang menjadi perhatian dalam pengolahan air limpasan adalah TSS. Air dengan kandungan padatan tersuspensi tinggi dapat terlihat keruh dan berpotensi membawa sedimen ke badan air apabila tidak dikendalikan.

Pengukuran TSS (Total Suspended Solids) secara akurat di fasilitas Lamella Gravity Settler (LGS) Pakalangkai, Sorowako. Petugas PT Vale Indonesia menggunakan alat pengukur portabel untuk menentukan kadar TSS pada sampel air limbah olahan. Data ini menjadi dasar untuk mengevaluasi efisiensi proses pengolahan dan memastikan air yang dialirkan kembali ke lingkungan memenuhi standar kualitas yang ditetapkan. Foto: Masyudi Firmansyah/Mediawarta

Burhanuddin menyebut air baku dengan konsentrasi TSS di atas 1.000 ppm dapat diturunkan hingga di bawah 10 ppm melalui proses di LGS. Sebagai pembanding, menurut penjelasan dalam diskusi tersebut, kolam konvensional rata-rata menghasilkan kadar sekitar 20–30 ppm setelah pengolahan.

Ia mengatakan pengendalian TSS dilakukan dengan mempertimbangkan batas baku mutu yang berlaku. Dalam sistem pengolahan PT Vale, standar internal untuk air hasil pengolahan diarahkan pada batas yang lebih ketat, yakni 100 ppm.

Selain TSS, parameter Cr-VI juga menjadi perhatian karena dapat muncul dari proses oksidasi batuan bijih. Karena itu, pengolahan tidak hanya mengandalkan pengendapan fisik, tetapi dilanjutkan dengan proses kimia menggunakan fero sulfat.

Dari sisi pemantauan, pengujian resmi dilakukan secara berkala menggunakan laboratorium independen pihak ketiga yang terakreditasi. PT Vale juga menyebut sistem pengelolaan airnya pernah diverifikasi konsultan internasional dalam rangka pemenuhan standar Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA).

Memiliki 126 Kolam Pengendapan

LGS bukan satu-satunya fasilitas yang digunakan PT Vale untuk mengelola air limpasan. Sistem pengendalian dimulai sejak air hujan memasuki kawasan tambang.

Air yang membawa partikel tanah dialirkan melalui saluran drainase tambang, kemudian melewati sump atau pocket pond sebelum masuk ke kolam sedimentasi awal (sediment pond). Setelah proses pengendapan fisik, air diteruskan menuju LGS untuk pengolahan lebih lanjut.

Dua petugas PT Vale Indonesia melakukan pengawasan di area bak Lamella Gravity Settler (LGS) Pakalangkai, Sorowako. Pengawasan rutin ini memastikan setiap tahap proses pengolahan limbah cair berjalan optimal, mulai dari pengendapan partikel hingga penyaringan air, demi menjaga kualitas lingkungan di sekitar pertambangan nikel. Foto: Masyudi Firmansyah/Mediawarta

“Secara keseluruhan terdapat 126 kolam pengendapan aktif yang tersebar di 11 catchment areas,” kata Burhanuddin.

Pada masing-masing daerah tangkapan air, terdapat rangkaian kolam yang jumlahnya rata-rata 10 hingga 20 kolam. Sistem tersebut digunakan untuk memperlambat aliran sekaligus menahan sedimentasi, terutama karena kondisi topografi kawasan tambang yang memiliki kontur cukup curam.

Pengelolaan sedimen menjadi salah satu pekerjaan yang membutuhkan perhatian khusus. Di fasilitas LGS, endapan lumpur berada di dasar fasilitas beton dengan kedalaman sekitar sembilan meter.

Untuk mengangkat endapan tersebut, PT Vale menggunakan sistem rel dan pompa lumpur (slurry pump) yang fleksibel. Perawatan berkala diperlukan agar kapasitas fasilitas tetap optimal dalam menerima dan mengolah limpasan.

Air Hujan dan Peluang Daur Ulang

Dalam diskusi tersebut, muncul pula pertanyaan mengenai kemungkinan air hasil pengolahan LGS dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan operasional pabrik.

Burhanuddin menjelaskan, pemanfaatan kembali air hujan masih dalam tahap kajian dan koordinasi dengan instansi terkait, termasuk Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang.

Sementara itu, air baku yang diambil dari danau melalui mekanisme perizinan yang berlaku telah digunakan kembali untuk kebutuhan operasional pabrik melalui sistem sirkulasi.

Jika aspek regulasi memungkinkan, pemanfaatan air hujan hasil pengolahan juga berpeluang dikembangkan sebagai bagian dari upaya efisiensi penggunaan sumber daya air.

PT Vale juga menerapkan sistem pengelolaan air di wilayah proyek lainnya. Fasilitas kolam pengendapan telah disiapkan di kawasan Pomalaa dan Morowali. Di Morowali, aliran air pada akhirnya menuju laut setelah melewati sistem sungai, sementara di Pomalaa terdapat sejumlah aliran seperti Sungai Oko-Oko dan Hupohupo.

Sistem pengolahan tersebut dipersiapkan sebelum kegiatan pembukaan lahan tambang dalam skala penuh, dengan tujuan mengendalikan sedimentasi dan menjaga kualitas badan air di sekitar wilayah operasi.

Comment