Pertamina Makassar Olah 150 Kg Limbah Plastik per Bulan Jadi Furnitur Bernilai Jual

Founder Payabo Fachri Achmad (kiri) bersama CSR & SMEPP Pertamina, Yoga Pratama (tengah) merakit tempat Water Station berbahan dasar ecoboard saat kegiatan Festival Mindspace 2026 di Psymetry Lab, Kelurahan Tamalanrea, Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar. Pemanfaatan limbah segel plastik mobil tangki ini diolah menjadi fasilitas umum bernilai guna melalui inisiatif program Mangkasara Eco-Kreasi. Foto: Masyudi Firmansyah/Mediawarta

MEDIAWARTA, MAKASSAR – Limbah segel plastik mobil tangki yang sebelumnya tidak terpakai kini mendapat nilai baru di tangan komunitas anak muda Makassar. Melalui kolaborasi dengan Payabo, Pertamina Integrated Terminal Makassar mengembangkan limbah plastik menjadi furnitur dan perlengkapan fasilitas umum, mulai dari meja, kursi, tempat sampah hingga water station.

Program yang mulai dikembangkan pada Juli 2026 itu menjadi bagian dari inisiatif Mangkasara Eco-Kreasi, program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) Pertamina yang mengusung konsep ekonomi sirkular. Dalam program ini, limbah tidak hanya dikurangi, tetapi juga diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

Founder Payabo Fachri Achmad (kiri) bersama CSR & SMEPP Pertamina Yoga Pratama (kanan) memperlihatkan cacahan limbah plastik di dekat mesin penggiling di Psymetry Lab, Kelurahan Tamalanrea, Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar. Kolaborasi program TJSL Pertamina ini mengolah sekitar 150 kilogram limbah segel plastik per bulan menjadi produk furnitur dan perlengkapan ramah lingkungan berbasis ekonomi sirkular. Foto: Masyudi Firmansyah/Mediawarta

CSR & SMEPP Pertamina, Yoga Pratama, mengatakan pengolahan limbah plastik tersebut mulai memasuki tahap produksi pada Agustus 2026. Saat ini, bahan baku yang diolah mencapai sekitar 150 kilogram limbah segel plastik per bulan, yang berasal dari Integrated Terminal Makassar.

“Yang pertama, kita memang mengutamakan limbah segel dari mobil tangki itu sendiri sebagai satu bentuk inovasi dari program ini,” kata Yoga saat ditemui dalam Festival Mindspace 2026 di Psymetry Lab, Kompleks Perumahan Bung Permai, Kelurahan Tamalanrea, Kecamatan Tamalanre, Kota Makassar, Selasa (20/10/2026).

Produk hasil daur ulang itu telah dimanfaatkan di lingkungan Integrated Terminal Makassar. Lebih dari tiga set tempat sampah dilaporkan sudah digunakan, sementara produk lainnya juga disalurkan ke sejumlah lokasi mitra binaan Pertamina.

Menurut Yoga, satu meja atau kursi yang dikembangkan melalui kolaborasi tersebut dapat menggunakan sekitar 5,3 kilogram limbah plastik. Pengembangan produk dilakukan bersama Payabo, komunitas anak muda yang mengolah plastik menjadi material alternatif untuk berbagai kebutuhan.

Founder Payabo, Fachri Achmad, yang akrab disapa Riri, menjelaskan bahwa komunitasnya mengembangkan material yang disebut ecoboard. Material tersebut dirancang sebagai alternatif pengganti kayu untuk pembuatan furnitur, dengan bentuk dan ukuran yang dapat disesuaikan dengan permintaan konsumen.

Payabo mengolah plastik jenis polipropilena (PP) dan high-density polyethylene (HDPE). Bahan bakunya tidak hanya berasal dari Pertamina, tetapi juga dari tempat pemrosesan akhir (TPA) Antang dan bank sampah di sekitar Makassar.

Proses pembuatan furnitur membutuhkan waktu dan bahan baku yang tidak sedikit. Untuk satu meja berukuran standar, Payabo menggunakan sekitar 15–20 kilogram plastik dan membutuhkan waktu pengerjaan kurang lebih satu minggu. Kapasitas produksinya diperkirakan mencapai 10 set meja dan kursi per bulan, dengan hampir 10 warga setempat, yang mayoritas anak muda, terlibat dalam kegiatan tersebut.

Seorang Anggota Payabo memperlihatkan lembaran papan material ecoboard hasil daur ulang limbah plastik kreasi komunitas Payabo. Material alternatif pengganti kayu ini diproduksi dari olahan limbah segel plastik mobil tangki Pertamina dan sampah plastik kota untuk pembuatan furnitur serta kerajinan bernilai ekonomis. Foto: Masyudi Firmansyah/Mediawarta

Dari sisi harga, satu set meja dan dua kursi ditawarkan sekitar Rp1,2 juta. Sementara itu, tempat sampah berbahan ecoboard dibanderol sekitar Rp700 ribu hingga Rp800 ribu, bergantung pada ukuran dan desain yang dipesan. Saat ini, penjualan produk Payabo masih berfokus di wilayah Makassar, dengan pelanggan antara lain kafe, mitra CSR, dan pembeli perorangan.

Bagi Pertamina, kerja sama ini tidak hanya berkaitan dengan pengurangan sampah plastik, tetapi juga membuka peluang usaha bagi komunitas lokal. Yoga mengatakan perusahaan turut memberikan ruang promosi kepada UMKM binaan melalui festival dan pameran, serta menyediakan pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan usaha, termasuk pemasaran digital dan strategi bisnis.

Pertamina juga menjalankan program UMK Academy untuk menjaring dan membina pelaku usaha yang memiliki potensi berkembang. Dukungan serupa dilakukan di sejumlah wilayah lain, termasuk Manado, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah.

Yoga menyebut, keberhasilan Mangkasara Eco-Kreasi di Makassar berpeluang menjadi model yang diterapkan di wilayah operasional Pertamina lainnya, termasuk Integrated Terminal dan Aviation Fuel Terminal. Dengan demikian, pengolahan limbah plastik diharapkan dapat berkembang dari inovasi lokal menjadi kegiatan berkelanjutan yang memberi manfaat bagi lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Comment