MEDIAWARTA, MAKASSAR – Deru mesin penggiling kedelai berpadu dengan uap panas yang membubung dari tungku cetakan tahu di sudut bangunan rumah tinggal milik Haslindah. Bersama sang suami yang berdarah Banyuwangi, perempuan asal Sidenreng Rappang (Sidrap) ini menekuni denyut usaha pengolahan pangan di bawah bendera Pabrik Tahu Maju Jaya sejak 2015 silam.
Perjalanan usaha mereka bermula dari ruang yang jauh lebih sederhana: menjajakan marning jagung serta aneka keripik olahan dari kios ke kios. Naluri dagang pasangan beda daerah ini kian teruji tatkala berhasil membeli rumah pribadi yang posisinya persis bersebelahan dengan saluran drainase irigasi—sebuah titik strategis untuk pembuangan dan pengelolaan instalasi air pabrik tahu rumahan. Bermodal keberanian beralih haluan, periuk marning berganti cetakan papan kedelai putih.
Satu dekade berselang, geliat Maju Jaya bertransformasi menjadi tumpuan ekonomi keluarga sekaligus membuka lapangan kerja bagi lima orang karyawan, termasuk armada pengemudi distribusi logistik. Skala produksinya menuntut pasokan bahan baku yang stabil; tak kurang dari 11 karung kedelai atau setara 550 kilogram diolah habis setiap harinya.
Aliran tahu basah yang tersusun rapi dalam ember-ember perendaman di atas bak mobil pikap siap mengalir ke berbagai simpul pasar. Distribusi harian tak hanya menopang para pagandeng (pedagang keliling bermotor khas Sulawesi Selatan) dan lapak-lapak pasar tradisional, tetapi juga melayani pasokan teratur untuk kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berlangsung berkala setiap pekan.
Laju putaran ratusan kilogram kedelai per hari tersebut tak lepas dari napas permodalan yang sehat. Haslindah mencatat hubungan kemitraan dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk telah terjalin selama sepuluh tahun, sejak ia masih mengampas jajanan marning. Kepercayaan itu berlanjut hingga kini lewat pemanfaatan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI guna memperkuat likuiditas pembelian bahan baku curah serta memelihara alat produksi.
“Alhamdulillah, perputaran usaha tahu ini kuncinya ada di modal kerja harian. Pasokan kedelai tidak boleh terputus karena setiap hari kami harus mengolah sampai 11 karung atau sekitar 550 kilogram kedelai untuk penuhi pesanan pasar, langganan pagandeng, sampai pasokan rutin program MBG. Dukungan pembiayaan KUR dari BRI ini sangat menolong kelancaran arus kas beli bahan baku curah. Apalagi Mantri BRI juga aktif turun langsung mengecek usaha kami ke pabrik, jadi kami merasa betul-betul didampingi sejak awal merintis dari jualan marning jagung dulu sampai bisa jalan stabil seperti sekarang,” tutur Haslindah, Selasa (27/10/2026).
Pendampingan lapangan oleh Mantri BRI yang rutin menyambangi lantai produksi memastikan rantai pasok pangan berbasis kerakyatan ini terus berputar tanpa kendala modal kerja. Bagi perajin lokal seperti Haslindah, kepastian permodalan perbankan menjadi fondasi utama agar asap tungku tetap mengepul dan tahu putih produksi Maju Jaya terus memadati keranjang belanja warga setiap subuh tiba.



Comment