MEDIAWARTA, MAKASSAR — Asap tipis beraroma lilin malam menguar lembut dari wajan tembaga kecil di sudut ruang pamer Jalan Cendrawasih No. 215C, Makassar. Di atas bentangan tikar bercorak, dua perempuan muda duduk bersila merapatkan pandangan ke selembar kain mori putih yang mulai dipenuhi guratan ornamen etnik Sulawesi Selatan.
Siang itu, Kamis (29/10/2026), Devi, mahasiswi Universitas Negeri Makassar (UNM), dengan sabar memandu tangan Gina mengendalikan cucuk canting. Gina, yang kesehariannya bertugas sebagai staf PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Kantor Cabang Hertasning Makassar, tampak berhati-hati menjaga ritme lelehan malam agar tidak meluber di luar garis sketsa huruf Lontara.
Ruang kreasi ini merupakan rumah bagi Batik dan Tenun Isti, unit usaha kriya yang dibangun Ir. A. Tenri Uba sejak 2007 silam. Kegelisahan Tenri terhadap makin langkanya penggunaan aksara daerah Bugis-Makassar mendorongnya menorehkan karakter suku kata tersebut ke dalam helaian kain sandang bernilai ekonomi tinggi.
Di sekeliling mereka, rak-rak kayu memajang tumpukan selendang sutra, kain tenun warna-warni, serta lembaran batik cap dan tulis yang telah matang melalui proses celup rintang warna. Tempat ini sengaja dibuka bukan hanya sebagai gerai niaga, melainkan laboratorium visual tempat bertemunya kalangan perbankan, perajin senior, dan insan akademisi kampus.
Kehadiran pekerja perbankan di sanggar kriya memberi nilai tambah pada pemahaman sektor jasa keuangan terhadap denyut UMKM binaan. Hubungan yang terbangun melampaui urusan transaksi modal atau literasi finansial semata; perbankan diajak menyelami langsung ketelatenan serta tingginya nilai kehati-hatian di balik selembar kain kriya lokal. Lewat jemari generasi muda yang memegang canting, aksara Lontara tidak sekadar membeku di lembaran naskah kuno, tetapi terus hidup menjadi identitas visual yang mandiri secara ekonomi.



Comment