MEDIAWARTA, GOWA – Digitalisasi mulai mengubah cara warga Desa Pakkatto, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, menjalankan aktivitas sehari-hari. Dari pelayanan administrasi pemerintahan hingga penjualan makanan tradisional dan pembelajaran di sekolah, akses internet membuka peluang baru bagi masyarakat desa.
Bagi petani rambutan, media sosial menjadi sarana memperluas pasar hingga ke luar Sulawesi. Bagi pelaku usaha kecil, pesanan daring membantu menjaga penjualan. Sementara bagi guru, koneksi internet mendukung penggunaan perangkat pembelajaran digital di ruang kelas.
Pemerintah Desa Pakkatto mulai mengembangkan program desa digital melalui Pos Pelayanan Desa Inklusif.
Kepala Desa Pakkatto, Basir, SE, mengatakan, anjungan pelayanan digital mulai diterapkan pada 2023 melalui kerja sama dengan Digides.
Program tersebut dirancang untuk memudahkan warga mengakses pelayanan sekaligus mendorong keterbukaan informasi pemerintahan desa.
“Dengan adanya anjungan pelayanan digital ini, kami berharap masyarakat bisa melek teknologi. Ke depan, masyarakat memang harus mampu mengikuti perkembangan teknologi,” kata Basir di kantor desa Pakatto, Rabu (21/10/2026).
Melalui situs web desa dan sejumlah kanal informasi digital, warga dapat mengetahui kegiatan pemerintah, program pembangunan, serta informasi penganggaran desa. Masyarakat juga dapat mengakses informasi melalui telepon genggam tanpa harus selalu datang ke kantor desa.
Untuk kebutuhan administrasi, warga dapat mengirimkan dokumen persyaratan melalui WhatsApp. Pemerintah desa kemudian memproses permohonan surat yang dibutuhkan. Bagi warga yang tidak sempat mengambil dokumen secara langsung, tersedia pula layanan pengantaran surat ke rumah.
Menurut Basir, digitalisasi juga memperkuat pengawasan masyarakat terhadap jalannya pemerintahan.
“Pada dasarnya, desa digital ini mengedepankan transparansi. Masyarakat bisa cepat mengetahui informasi sekaligus ikut mengawasi jalannya pemerintahan,” ujarnya.
Rambutan Pakkatto Dipasarkan hingga Manokwari dan Sorong
Salah satu potensi ekonomi yang diandalkan Desa Pakkatto adalah pertanian rambutan. Saat musim panen, produksi komoditas tersebut diperkirakan mencapai ratusan ton, berdasarkan keterangan kepala desa.
Pemasaran rambutan kini tidak hanya mengandalkan pembeli yang datang langsung. Sejumlah warga memanfaatkan WhatsApp dan Facebook, termasuk fitur siaran langsung, untuk menawarkan hasil panen kepada calon pembeli.

Pemanfaatan akses internet desa memicu pergeseran strategi pemasaran bagi produsen makanan khas lokal seperti buras, lontong, dan ketupat, yang kini menjangkau konsumen dan pesanan hajatan di luar daerah secara langsung melalui platform digital tanpa perantara. Foto: Masyudi Firmansyah/Mediawarta
Basir menyebut rambutan asal Pakkatto telah dikirim ke sejumlah daerah di Papua, di antaranya Manokwari dan Sorong.
Jangkauan pemasaran tersebut memperlihatkan bagaimana media sosial dapat membantu petani dan pedagang desa menemukan pasar di luar wilayahnya. Teknologi digital memberi kesempatan kepada pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan produk tanpa sepenuhnya bergantung pada pemasaran konvensional.
Basir juga menyebut hasil pertanian rambutan berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan warga. Ia memperkirakan sedikitnya sekitar 50 orang setiap tahun berangkat umrah, meskipun angka tersebut belum disertai data yang merinci hubungan langsung antara pendapatan rambutan dan biaya perjalanan ibadah tersebut.
Selain pertanian, Pakkatto memiliki potensi wisata tangga refleksi menuju Gunung Topa. Kawasan ini menawarkan jalur pendakian bertangga yang dapat dimanfaatkan pengunjung untuk beraktivitas fisik sambil menikmati panorama dari ketinggian.
Pemerintah desa turut memperkenalkan potensi tersebut melalui kanal informasi digital, bersama berbagai produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Usaha Bulo Bertahan dengan Pesanan Harian
Di tengah perkembangan pemasaran digital, usaha makanan tradisional juga menjadi bagian dari denyut ekonomi masyarakat Pakkatto.
Nurhayati Dg. Ngai, warga Desa Pakkatto, telah menjalankan usaha kecil yang memproduksi bulo (Buras dan Lontong) atau olahan beras yang dijual dalam bentuk lontong, burasa, dan ketupat sejak 2023.
Usaha tersebut mengandalkan dua jalur penjualan, yakni pesanan daring dan pelanggan yang datang langsung atau mengambil produk secara rutin.

Masuknya jaringan internet desa mendorong pelaku usaha mikro di kawasan perdesaan beralih dari transaksi konvensional ke pola interaksi daring langsung, memungkinkan pembeli memantau higienitas serta proses pembuatan pangan lokal secara waktu nyata sekaligus memperluas pasar hingga lintas daerah. Foto: Masyudi Firmansyah/Mediawarta
Nurhayati mengatakan, salah satu pelanggan mengambil sekitar 300 biji produknya setiap hari. Untuk ukuran yang dijual kepada pelanggan reguler, harga satuannya sekitar Rp1.000. Sementara produk berukuran lebih besar yang dipesan secara daring dapat dijual dengan harga berbeda, termasuk Rp2.000 per biji.
Pola penjualan tersebut menunjukkan bahwa usaha rumahan dapat menggabungkan pelanggan tetap dengan pemasaran melalui internet. Pesanan rutin membantu menjaga perputaran produksi, sedangkan kanal daring memberikan pilihan bagi pembeli yang menginginkan produk sesuai kebutuhan.
Internet Bantu Guru Gunakan Smartboard
Manfaat akses internet juga dirasakan di sektor pendidikan, salah satunya di SD Inpres Pakatto Caddi.

Kehadiran akses jaringan internet desa di wilayah pelosok mempercepat digitalisasi ruang kelas tingkat dasar, memungkinkan tenaga pendidik mengintegrasikan modul ajar daring dan materi multimedia untuk meningkatkan pemahaman siswa secara interaktif sekaligus menggantikan metode ceramah konvensional. Foto: Masyudi Firmansyah/Mediawarta
Guru SD Inpres Pakatto Caddi, Sunardi, S.Pd., mengatakan internet membantu guru memanfaatkan perangkat smartboard untuk mendukung kegiatan belajar mengajar.
Menurut Sunardi, sekolah tersebut telah memiliki dua unit smartboard. Pada 2026, sekolah juga menantikan tambahan tiga unit bantuan pemerintah, sehingga pemanfaatan perangkat pembelajaran digital diharapkan semakin luas.
“Dengan adanya internet desa, kami sangat terbantu sehingga kegiatan pembelajaran di kelas bisa terlaksana dengan baik,” kata Sunardi.
Ia menjelaskan, sekolah mulai menggunakan smartboard pertama sekitar 2020, kemudian memperoleh perangkat kedua sekitar 2024. Namun, perangkat tersebut belum tersedia di setiap kelas.
Melalui smartboard, guru tidak hanya dapat menulis materi pelajaran, tetapi juga menampilkan video edukasi dan berbagai bahan ajar digital. Penggunaan perangkat ini membantu menghadirkan variasi pembelajaran agar materi lebih mudah dipahami siswa.
Sunardi menilai kualitas koneksi internet di wilayah tersebut cukup baik. Ia menyebut sejumlah penyedia layanan yang digunakan masyarakat, antara lain MyRepublic, PLN Iconnet, dan IndiHome.
Ketersediaan koneksi yang memadai menjadi faktor penting karena pembelajaran berbasis perangkat digital membutuhkan akses internet untuk membuka dan menampilkan materi tertentu.
Transparansi dan Akses Digital Jadi Tantangan Berikutnya
Pengembangan desa digital di Pakkatto memperlihatkan tiga kebutuhan yang saling berkaitan: pelayanan publik yang mudah dijangkau, pemasaran produk lokal yang lebih luas, dan dukungan teknologi untuk pendidikan.

Penyediaan akses jaringan internet desa mempermudah para pendidik memperkenalkan teknologi digital dan materi pelajaran visual interaktif secara langsung kepada peserta didik sekolah dasar, mendorong percepatan literasi digital di kawasan perdesaan agar setara dengan sekolah-sekolah di wilayah perkotaan. Foto: Masyudi Firmansyah/Mediawarta
Namun, keberhasilan digitalisasi tidak hanya ditentukan oleh tersedianya perangkat atau jaringan internet. Masyarakat juga perlu mendapatkan informasi yang mudah dipahami, pendampingan penggunaan teknologi, serta layanan yang tetap dapat diakses warga yang belum terbiasa dengan sistem digital.
Bagi pemerintah desa, keterbukaan informasi menjadi bagian penting agar teknologi tidak sekadar menjadi sarana publikasi, tetapi juga alat pengawasan masyarakat.
Sementara bagi pelaku usaha dan tenaga pendidik, manfaat internet akan semakin terasa apabila akses tersebut dapat mendukung kegiatan produktif secara berkelanjutan.
Melalui pengembangan desa digital, Pemerintah Desa Pakkatto berharap pelayanan semakin mudah, potensi ekonomi lokal semakin dikenal, dan pemanfaatan teknologi dalam pendidikan terus berkembang. Dengan demikian, digitalisasi di tingkat desa dapat memberikan manfaat langsung bagi kehidupan masyarakat, bukan hanya menghadirkan perubahan pada sistem pelayanan pemerintahan.



Comment